Neurosains Bisa Diterapkan dalam Operasi Antiteror
- VIVA.co.id/Lazuardhi Utama
Di bawahnya lagi ada sumsum tulang belakang, dan dari sumsum tulang belakang mengalir ke semuanya, agar kita bisa bergerak.
Secara struktur makro antara orang normal dan orang ekstrem itu berbeda. Tetapi, dalam mikro, koneksi antara satu sel saraf dengan saraf lain tentu berbeda, tergantung pada pengalaman.
Perbedaan yang mencolok terletak pada sub limbik, di mana neurotransmitter yang bekerja di situ banyak yang bersifat glutaminergik, polinergik, dofaminergik.
Sementara itu, orang normal biasanya tingkat dia punya epinefrin, kemudian tingkat norepinefrin, endorfin. Itu semua berada pada batas yang lebih tinggi.
Jadi, buktinya bahwa pada saat orang menjadi ektrem menjadi radikal, neurotransmitter dalam otak mengalami peningkatan dan peningkatan ini berdampak pada gaya hidupnya.
Makanya, ada pelaku terorisme melakukan aksinya dengan cara bunuh diri. Karena, dia menganggap semua orang ancaman baginya, paranoid (ketakutan luar biasa) terhadap semua orang.
Umumnya, seseorang yang radikal, atau teroris karena dua hal. Depresi dan frustrasi. Dalam kondisi seperti ini dan doktrin yang masuk, maka jadilah ia ekstrem.
Depresi adalah aksi, di mana orang lain menekan dia. Sedangkan frustrasi, adalah keinginan diri sendiri yang tidak tersampaikan.
Pendapat Anda mengenai seseorang tiba-tiba mengklaim dirinya Nabi atau Tuhan?
Itu tandanya dia cenderung untuk berhalusinasi. Halusinasi adalah suatu proses, di mana sistem saraf mengalami eror, karena neurotransmitter-nya menjadi serial.
Ini menjadi sebuah pertanda schizophrenia, atau penyakit jiwa menahun. Tanda-tandanya ada empat, yakni halusinasi, waham paranoid, psikomotik berulang, dan ada hendaya dengan masyarakat (kalau berbicara nggak nyambung).
Di Indonesia sudah ada rencana menerapkan neurosains?
Belum, hehehe. Konsep neurosains sangat menarik untuk diterapkan dalam upaya antiteror, bukan hanya pendekatan berdasarkan prosedur tetap (protap), kaku, dan melalui kekuasaan. Tetapi, pendekatan lain juga harus dilakukan seperti pendekatan spiritual.
Kalau saya ingin, ada pendekatan neurosains untuk mengantisipasi terorisme. Saya berharap, konsep ini diambil pemerintah. Karena, pemberantasan terorisme bukan hanya tugas Polri, tetapi juga Badan Intelijen Negara dan Badan Intelijen Strategis TNI. (asp)