Neurosains Bisa Diterapkan dalam Operasi Antiteror
- VIVA.co.id/Lazuardhi Utama
Sebenarnya, otak bisa berubah dengan neuroplasticity. Karena itu, pendekatan neurosains terhadap 'penyakit' ektremisme bisa disembuhkan melalui deradikalisasi.
Mekanismenya adalah menginput pandangan-pandangan yang salah dan memanipulasi neurotransmitter di otak. Neurotransmitter adalah kimia otak - yang bisa membuat bahagia, sengsara, dan ada kimia rasa nyeri.
Itu semua bisa dimodifikasi, sehingga fungsi otak, setelah dilakukan modifikasi, struktur kimianya membaik.
Maka output-nya adalah semua pandangan radikalisme tadi bisa dikeluarkan, dan ini terganti pada struktur otak baru di mana otak baru ini meyakini bahwa ektrem, atau radikal itu tidak benar. Ini radikalisme negatif yang saya maksud. Karena, ada juga radikal positif.
Contoh radikalisme positif?
Radikal terhadap Pancasila. Bahkan, kalau ada tokoh yang menyumbangkan seluruh hidup dan hartanya, itu juga disebut radikal. Sekarang radikal itu mengalami penyempitan arti.
Pada prinsipnya, filosofi radikal adalah dia keluar dari batasan normal alias tak normal. Terlalu baik, atau terlalu buruk.
Pancasila adalah sesuatu yang universal. Mutlak. Neurosains sangat aplikatif di kehidupan masyarakat. Ilmu ini tidak melulu berhubungan dengan penyakit otak, tapi ada aspek lain seperti sosial kemasyarakatan yang aplikasinya sangat luas.
Selanjutnya, dari neurosains sendiri adakah perbedaan antara patriotisme dan nasionalisme?
Dari neurosains sendiri adakah perbedaan antara patriotisme dan nasionalisme?
Itu (patriotisme dan nasionalisme) bagian dari radikalisme positif. Tetapi, patriotisme berbeda dengan nasionalisme. Patriotisme itu membela suatu kebenaran.
Contohnya, perang merebut kemerdekaan dan seorang polisi yang berusaha mempertahankan orang di jalan akibat perampokan.
![]()
Prof. dr. Taruna Ikrar, Ph.D.
Sedangkan nasionalisme adalah hubungannya dengan batas-batas kenegaraan. Ini luas, universal. Artinya, tidak ada suatu negara di dunia ini yang mampu berdiri sendiri.
Mereka bergantung dari negara lain, termasuk negara tetangga. Karena, kita saling mengisi. Jadi, nasionalisme itu dalam konteks kita (neurosains) mampu berbuat sesuatu untuk bangsa, meskipun saya maupun ilmuwan Indonesia lainnya tidak ada (bekerja) di Tanah Air.
Bagaimana 'membaca' otak orang radikal dan normal?
Dalam struktur otak itu terdapat otak besar, otak kecil, di bawah otak itu ada sub limbik dan di bawah sub limbik ada batang otak.