Wacana Legalisasi Kasino, Ekonom: Kenapa Kita Terus Perkaya Singapura?

Diskusi Publik yang digelar oleh Ikatan Wartawan Hukum (Iwakum)
Sumber :
  • istimewa

Jakarta, VIVA – Ekonom sekaligus Pengamat Bisnis, Benny Batara Hutabarat alias Bennix menyoroti kerugian yang ditanggung Indonesia akibat belum adanya regulasi dan fasilitas legal yang mengakomodasi perjudian kasino. Menurutnya, ketergantungan warga Indonesia terhadap negara tetangga justru memperkaya pihak luar, terutama Singapura.

Jaga Stabilitas Ekonomi RI Kadin Ingatkan Semangat Indonesia Incorporated

Begitu ia sampaikan dalam diskusi bertajuk Legalisasi Kasino di Indonesia: Antara Kepastian Hukum, Tantangan Sosial dan Peluang Ekonomi yang diselenggarakan oleh Ikatan Wartawan Hukum (Iwakum).

"Kalau kita bikin (kasino) ilegal, justru hanya memperkaya jenderal-jenderal penguasa bintang-bintang di langit itu buat apa? Faktanya, orang pengen buang duit. Faktanya, orang butuh hiburan," ujar Bennix dalam diskusi publik di Jakarta, Sabtu, 7 Juni 2025.

Genjot Ekonomi Lokal, Pertamax Turbo Drag Fest 2025 Ditegaskan Bukan hanya Sekadar Ajang Balapan

Ia menyebut bahwa ketika negara tidak menyediakan ruang legal bagi untjk kasino, maka masyarakat akan mencari cara lain, yakni bepergian ke luar negeri seperti Singapura, Jepang, Macau, hingga Australia. 

Sekolah Rakyat Bisa Akselerasi Pengentasan Kemiskinan Ekstrem, Begini Penjelasannya

Bennix menilai bahwa dampak ekonomi dari pembiaran ini sangat besar. Selama satu dekade terakhir, kata dia, Indonesia telah kehilangan hingga Rp 1.000 triliun akibat devisa yang mengalir keluar karena aktivitas kasino di luar negeri yang banyak dikunjungi warga Indonesia.

Lebih lanjut, Bennix menyoroti bagaimana Singapura menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari lemahnya regulasi hiburan di Indonesia. 

“Kenapa kita hobi memperkaya rakyat Singapura? Secara duit, terus menyediakan lapangan kerja buat orang Singapura,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa jumlah warga Singapura yang hanya sekitar 6 juta jiwa jauh lebih kecil dibanding populasi Jakarta. Namun, negara tersebut berhasil menarik keuntungan besar dari konsumsi dan aktivitas ekonomi warga Indonesia. 

"Memang kita ini budak, bangsa budak, dan akan terus diperbudak dengan sistem kita yang lebih suka, lebih cinta, yang memperkaya negara lain," katanya.

Bennix bahkan menuding adanya desain sistemik yang sengaja dibuat untuk mempertahankan dominasi negara-negara tertentu atas Indonesia. 

Ia mengklaim bahwa beberapa BUMN Singapura bahkan mendanai lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Indonesia untuk menghambat proyek-proyek besar yang berpotensi mengganggu kepentingan ekonomi Singapura.

“Indonesia mau bikin kilang minyak sendiri, maju demo. Indonesia mau buka kasino, maju demo. Indonesia mau buka galangan kapal terbesar, bisa mengganggu Singapura. Maju demo,” imbuhnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya