Efektifkah Kendaraan Listrik tapi Sumber Energinya dari PLTU Batu Bara?

PLN sediakan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum di Labuan Bajo
Sumber :
  • Jo Kenaru/tvOne/Manggarai Barat-NTT)

Jakarta – Salah satu polemik yang kerap muncul saat berbicara perihal pemanfaatan kendaraan listrik adalah soal seberapa efektifnya penggunaan kendaraan listrik yang sumber energinya masih diambil dari PLTU batu bara.

img_title Hari Pertama Dibuka, Rekrutmen Nasional PLN Group Diminati Puluhan Ribu Pendaftar

Menanggapi polemik tersebut, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Marves, Rachmat Kaimuddin mengatakan, pihaknya sudah menghitung efektivitas dari pemanfaatan kendaraan listrik, yang sumber energinya masih berasal dari PLTU batu bara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Setelah hasil perhitungan diperoleh, Rachmat pun menegaskan bahwa upaya untuk beralih ke kendaraan listrik, meskipun energinya masih berasal dari PLTU batu bara, memang benar-benar berguna dan bermanfaat bagi lingkungan.

img_title PLN Raup Pendapatan Rp 281 Triliun di Semester I-2025, Penjualan Listrik Naik 4,53 Persen

"Kemarin kita sempat hitung-hitung, menurut kita sih ada (gunanya)," kata Rachmat dalam telekonferensi di acara sosialisasi 'Dekarbonisasi Sektor Transportasi melalui Adopsi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) Wilayah Jawa Barat', Selasa, 7 November 2023.

Deputi Transportasi dan Infrastruktur Kemenko Marves, Rachmat Kaimuddin.

Photo :
  • VIVA/Mohammad Yudha Prasetya.

img_title Listrik di Aceh Padam 3 Hari Padahal Surplus 399 Megawatt, Ini Penjelasan PLN

Dia pun merinci hasil perhitungan tersebut. Saat efisiensi motor listrik dihitung berdasarkan jarak tempuhnya, maka jarak yang bisa ditempuh oleh 1 liter bensin sama dengan jarak yang ditempuh dengan energi antara 1,2-1,3 kwh menggunakan kendaraan listrik.

"Ini matematika yang biasa kita hitung, 1 liter bensin itu jaraknya kira-kira sama dengan 1,2-1,3 kwh kalau di kendaraan listrik. 1 liter bensin itu kalau dibakar CO2-nya, adalah 2,4 kg. Tapi kalau 1 kwh itu kira-kira hanya 1 kg pure coal fire," ujarnya.

Karenanya, Rachmat mengatakan bahwa kalaupun seandainya seluruh pembangkit listrik di Indonesia itu menggunakan batu bara (coal), maka itu pun masih ada saving CO2 antara 40-50 persen. "Dan tentunya, kan tidak semua pembangkit listrik di Indonesia itu PLTU. Kita juga punya yang (emisi dari pembangkitnya) rendah. Emisi kita enggak 1 kg/kwh, tapi mungkin sekitar 0,7 (kg/kwh)," kata Rachmat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Rachmat pun menegaskan bahwa upaya pengurangan emisi CO2 melalui penggunaan kendaraan listrik itu, memang benar-benar nyata manfaatnya. Hal itu bahkan dapat dilihat dari perbandingan antara jumlah cerobong pembangkit listrik, dengan jumlah knalpot kendaraan bermotor yang ada di Indonesia.

"Jadi pengurangan emisi ini sebenarnya sangat-sangat real. lebih gampangnya lagi, kita punya cerobong jumlahnya puluhan atau ratusan, dan kita punya knalpot 150 juta. Lebih gampang mana untuk dikendalikan, yang puluhan/ratusan atau yang 150 juta?" ujar Rachmat.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut