SOROT 520

Pelajaran Mahal Hooligan

Kerusuhan suporter sepakbola di Stadion Heysel pada 1985
Sumber :
  • reuters

Stasiun berita BBC mengungkapkan, korban tewas dalam kejadian tersebut jauh lebih banyak, 96 orang. Penyebab utama dari peristiwa mengenaskan tersebut adalah membludaknya penonton dan melebihi kapasitas stadion di laga semifinal Piala FA antara Liverpool melawan Sheffield Wednesday.

img_title Ramai Polemik soal Royalti, Berikut Lirik Lagu 'Tanah Airku' yang Kerap Dinyanyikan Suporter dan Pemain Timnas Indonesia

Mereka yang tewas kebanyakan karena terhimpit dan terinjak-injak. Pihak Liverpool, khususnya fans, sempat dijadikan kambing hitam atas kejadian ini. Namun belakangan hasil penyelidikan yang diumumkan pada 2016 lalu menyatakan polisi dan panitia lokal yang bersalah karena lalai mengatur mobilitas penonton di dalam dan luar stadion.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kejadian berulang yang membuat banyak orang meninggal sia-sia membuat pemerintah Inggris serta seluruh pihak terkait dalam sepakbola di sana bertindak serius. Parlemenn Inggris pun menyusun undang-undang yang mengizinkan pengadilan untuk melarang suporter datang ke stadion, atau dikenal dengan The Public Order Act pada 1986.

img_title Suporter Masih Abaikan Larangan Away di Super League, Bahkan Ada Insiden Lempar-lemparan

Setelah itu muncul undang-undang Football Spectators Act 1989, yang melarang hooligans terhukum menghadiri pertandingan internasional. Dua tahun kemudian muncul The Football Offences Act 1991, yang secara khusus melarang suporter melempar barang ke dalam lapangan, dan nyanyian rasial. Namun, rentetan undang-undang itu tidak membuat hooligans kapok.

Pada perhelatan Piala Eropa 2000, hooligans kembali membuat ulah di Charleroi, Belgia. Ketika itu ratusan perusuh itu ditangkap polisi sebelum dan setelah laga Inggris melawan Jerman. Pasca-kerusuhan itu, pemerintah Inggris mengeluarkan undang-undang Football (Disorder) Act 2000.

img_title Ferry Paulus Sindir Persib, Netizen Balik Serang dengan Bukti Pitch Invasion Suporter Klub Eropa saat Rayakan Juara

Dalam undang-undang Football (Disorder) Act 2000, pemerintah Inggris benar-benar mengontrol hooligans. Bahkan dalam salah satu pasal di undang-undang itu disebutkan, hooligans yang bermasalah harus menyerahkan paspor mereka selama jadwal pertandingan internasional, agar tak bisa pergi ke luar negeri. Hasilnya, Inggris mampu mengontrol hooligans hingga kini.

Suporter klub Inggris Liverpool

Suporter Liverpool

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Untuk mengontrol suporter di Premier League, klub-klub juga membantu Asosiasi Sepakbola Inggris (FA). Klub-klub Premier League akan menghukum penonton atau melarang mereka ke dalam stadion jika membuat kerusuhan. Kontrol itu bisa dilakukan melalui dicabutnya kartu anggota klub dan tiket musiman sang suporter.

Perbaiki Sistem Pengamanan
Berangkat dari pengalaman pahit di masa lalu, Inggris pun menyusun sistem pengamanan baku untuk laga sepakbola. Pada 2011 lalu The Guardian memuat keterangan dan penjelas dari salah satu aparat polisi senior yang sudah berpengalaman menangani pertandingan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut