- VIVA.co.id/BNPT
![]()
Grafik potensi penyebaran radikalisme di Indonesia
Belajar dari itu, pihak rektorat punya aturan tegas berupa pemecatan bila menyangkut dosen atau pegawai yang terjerat paham radikalisme. Untuk mahasiswa, dilakukan pendampingan oleh dosen-dosen pilihan. "Itu dilakukan terhadap mahasiswa baru, mereka yang sudah menjalani masa kuliah, atau aktif di unit unit kegiatan mahasiswa," tutur Suko.
Namun, meski mahasiswa dianggap menjadi sasaran utama, masih ada kalangan lain yang dibidik. Ada potensi lain seperti aparatur sipil negara sampai warga biasa seperti pedagang menjadi incaran kelompok penyebar paham radikal ini.
Pengamat terorisme dari Institute Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi mengatakan, paham radikalisme dipengaruhi beberapa faktor yang menjadi pemicu seperti pendidikan. Selain itu, radikalisme juga dipicu karena faktor pemikiran, ekonomi, politik, sosial, sampai psikologis.
Dengan faktor pemicu tersebut, ada aspek yang perlu menjadi perhatian. Misalnya, masyarakat ekonomi yang rendah bisa memicu terjebak radikalisme. "Masyarakat ekonomi lemah bisa saja percaya tokoh radikal yang dianggap bisa mengubah hidupnya ke depan," tutur Fahmi. [mus]