- VIVA.co.id/BNPT
Menurut dia, proses radikalisme saat ini bisa instan karena didukung media sosial. Berbeda dengan dulu yang mengandalkan secara tradisional atau bertemu langsung face to face. "Sekarang proses radikalisasi itu bisa instan. Bisa lewat medsos misalnya Facebook," ujar Fauzi kepada VIVAnews, Kamis, 1 Agustus 2019.
![]()
Mantan teroris Ali Fauzi
Dia meyakini, perkembangan teknologi itu justru membuat radikalisasi lebih mudah tersebar ke masyarakat. Menurutnya, cara yang paling ampuh penyebar benih paham radikal saat ini dengan menggunakan grup whatsApp karena dinilai lebih aman.
Meski tak ada kajian spesifik, namun ia menekankan fenomena yang ada saat ini di medsos menguatkan penyebaran pemahaman radikal. Kelompok radikal menurutnya mengandalkan jalur medsos. "Melihat di medsos, menguatnya radikalisme tidak dibantah. Intinya radikalisasi saat ini jauh lebih mudah" kata Fauzi menambahkan.
Pengamat terorisme Al Chaidar menambahkan, menguatnya penebaran radikalisme disebabkan faktor yang tidak tunggal dan kompleks. Maka itu, perlu upaya khusus dari pemerintah dalam penanganan persoalan radikalisme ini.
Menurut dia, paham radikalisme ini bila sudah menjerat orang maka akan memiliki ciri tertentu. Beberapa gejala tersebut yaitu orang tersebut tak mau menerima dan mendengarkan pendapat orang lain. Menurut dia, kelompok ini selalu merasa benar di masyarakat. Perilaku ini yang sering memunculkan intoleransi.
Gejala radikal lainnya, yakni berani mengintimidasi orang lain demi mencapai tujuan. Intimidasi ini dengan teror yang bisa mengancam jiwa orang lain untuk memberikan peringatan. Orang radikal memiliki kesadaran ingin tata dunia baru dengan cara teror kekerasan menggunakan aksi sadis.
Sasaran Empuk
Kelompok penganjur radikalisme cenderung mengincar anak-anak muda sebagai sasaran empuk. Anak muda yang biasanya mahasiswa baru akan mudah kena doktrin. Hal ini pernah dialami sejumlah mahasiswa kedokteran Universitas Airlanggga. Namun, peristiwa ini disebut terjadi dulu, bukan saat ini.
"Kedokteran itu dulu gudangnya, tapi itu dulu itu pun sebenarnya kecil," ujar Juru Bicara Unair, Suko Widodo kepada VIVAnews, Rabu, 31 Juli 2019.
Suko yang juga pakar komunikasi politik itu mengatakan, mahasiswa baru jadi sasaran empuk kelompok ekstrimis dengan berbagai modus cara. Misalnya, seperti pelaku mencarikan kos atau asrama agar mudah dipantau.