Kelangkaan Elpiji

Untung Rugi si Biru

VIVAnews – HALIMAH Effendi ketar-ketir. Beberapa hari belakangan, pedagang Warung Betawi di kawasan Garnisun, Karet, Jakarta ini terpaksa harus berputar-putar mencari gas elpiji yang menguap entah ke mana. Kelangsungan warungnya terancam.  Sudah sejak akhir tahun lalu Halimah meninggalkan minyak tanah. Itu tak lama sejak pemerintah menarik minyak tanah dari peredaran, yang membuat harganya lalu melambung dan “memaksa” banyak orang beralih ke elpiji.

img_title Hilirisasi Nikel Indonesia: Pertumbuhan Ekonomi vs Kerusakan Lingkungan Cek Breaking NULL

Program konversi minyak tanah ke gas yang dicanangkan pemerintah rupanya kadung membuat Halimah ketagihan. Semasih menggunakan minyak tanah, tiap hari ia musti merogoh kocek Rp 32.500 untuk membeli 13 liter. Beralih ke elpiji, ia jadi tak mesti sering-sering menarik dompet. Jika menggunakan elpiji 12 kg yang biasa dibelinya seharga Rp 75-85 ribu, kompor Halimah bisa terus menyala selama lima hari. "Artinya, sehari tidak lebih dari Rp 20 ribu," katanya. Apalagi jika memakai elpiji 3 kg yang disubsidi pemerintah. Sehari dia cukup mengeluarkan 13 ribu perak buat bahan bakar. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Halimah hanyalah satu dari sekian banyak kisah warga yang kini keranjingan elpiji.  Mengacu kepada data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, LPG (liquid petroleum gas) memang punya banyak kelebihan dibandingkan minyak tanah.

img_title Ancaman Kebakaran Hutan dan Krisis Air di Indonesia

Untuk memasak air 2,5 liter hingga mendidih, misalnya, dengan elpiji membutuhkan 10,3 menit, sedangkan pakai minyak tanah 14,7 menit. Jika menggunakan elpiji dan minyak tanah bersubsidi, biaya  yang diperlukan jika memakai elpiji hanyalah Rp 148,7, jauh lebih irit ketimbang minyak tanah yang memerlukan Rp 225. Selain itu, memasak pakai gas juga lebih bersih, kurang berasap dan berjelaga, serta ramah lingkungan.

Yang mendapat untung bukan hanya dompet warga pemakai, tapi juga kas negara. Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Departemen Energi, Evita Legowo, jika sukses mengalihkan semua konsumen minyak tanah ke elpiji pemerintah bisa menghemat anggaran belanja Rp 15 triliun per tahun.

img_title Hilirisasi Nikel Indonesia: Pertumbuhan Ekonomi vs Kerusakan Lingkungan

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2008, subsidi minyak tanah dianggarkan sebesar Rp 38,7 triliun. Hingga Oktober saja, dana yang digelontorkan sudah melebihi pagu, senilai Rp 43,9 triliun. Adapun subsidi elpiji dibujetkan Rp 9,79 triliun dan baru terserap Rp 3,2 triliun hingga Oktober lalu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut