- ANTARA/Prasetyo Utomo
VIVAnews – “Saya akan tetap lengket dengan BlackBerry .Mereka harus merampasnya dari saya.” Tantangan itu disampaikan Barrack Obama. Presiden Amerika Serikat itu gerah, lantaran keamanan kepresidenan terus-terusan meminta Blackberry yang dipakai Obama. Alasannya, demi keamanan.
Obama menolak, sebab BlackBerry itu sudah seperti bayangannya sendiri. Bila tidak sedang digunakan, 8830 World Edition itu masuk sarang di kasing sabuk celana sang presiden. BlackBerry itu, kata Obama, adalah telinga untuk mendengar suara rakyat. "Mereka bisa mengirim pesan kepada saya, apa yang terjadi di Amerika Serikat."
Keamanan Presiden menyerah, tapi mereka memberi syarat. Obama hanya boleh berkomunikasi dengan orang-orang terbatas. BlackBerry kesayangan Obama itu juga dipermak. Dimodifikasi. Tingkat keamanannya diperkuat. Obama setuju. Masalah selesai.
Seperti Obama, jutaan profesional di dunia mengunakan BlackBerry sebagai alat komunikasi. Barang ini laris manis. Di Indonesia jumlah pengunanya paling sedikit 2,5 juta orang.
BlackBerry digemari lantaran menyediakan komunikasi tanpa putus. Baik komunikasi suara, layanan pesan instan, pesan email, serta akses informasi tanpa batas di Internet. Singkat kata, dengan BlackBerry pekerjaan menjadi mudah.
Jalur transmisi data BlackBerry juga diyakini jauh lebih aman ketimbang saluran operator lain. Mengapa? Sebab semua informasi yang melewati perangkat BlackBerry mengalami enkripsi alias diacak-acak terlebih dulu baru dikirimkan. Dengan cara ini, menyadap komunikasi yang lalu-lalang di sini adalah sia-sia belaka. Sebab data yang disadap sulit dimengerti.
Keamanan super canggih itulah yang membuat produk besutan RIM di Kanada ini digemari jutaan orang, lembaga pemerintah, termasuk Federal Bureau of Investigation (FBI).
Pemerintah Amerika Serikat adalah salah satu pengguna BlackBerry terbesar. Enam tahun lalu, saat produk ini belum merambah sejumlah negara, 100 ribu pegawai pemerintah negeri itu sudah mengunakan perangkat BlackBerry. Para pelaku bisnis di Wall Street, firma hukum, dan industri lain yang sangat sensitif terhadap keamanan data, juga ramai-ramai memakai Blackberry.
Demi menghindari kontrol rejim berkuasa, para aktivis pro demokrasi dan hak asasi manusia juga mengandalkan BlackBerry dalam berkomunikasi. Para intel yang semula mudah menyadap, kelimpungan dengan teknologi BlackBerry.