- ANTARA/Prasetyo Utomo
Berbagai versi soal pengadaan itulah yang ramai diributkan sejumlah kalangan sepekan belakangan. Sejumlah versi itu ramai dibicarakan sesudah salah satu pesawat MA60 itu, menghujam laut di Kaimana Papua, 7 Mei 2011. Semua penumpang tewas.
Agar memahami lebih terang kasus ini, mari kita runut proses pengadaan pesawat itu dari awal. Dari tahap penjajakan hingga 15 pesawat itu tuntas terbang ke sini.
Pemerintah China sesungguhnya sudah lama mempromosikan pesawat MA-60 itu. Semenjak 10 tahun silam. Tahun 2002 pemerintah China, lewat Xi’an Aircraft International Company (XAC) sudah mulai mempromosikan pesawat MA60 itu kepada Indonesia. Indonesia terus dirayu setiap kunjungan pejabat penting Jakarta ke negeri itu.
Pada ajang The 7th International Indonesia-China Joint Commission Meeting on Economic Trade and Technical Cooperation di Beijing tahun 2005, soal pembelian ini kembali ditawarkan. Hadir dalam pertemuan itu Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri ekonomi terkait.
Saat itu pemerintah China menawarkan pinjaman lunak, untuk membeli pesawat itu. Mereka juga menawarkan pinjaman lunak untuk pengadaan lokomotif, dan pembangkit listrik 10 ribu megawatt. Semua pinjaman itu berbunga rendah. Syaratnya, penerima pinjaman ini adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Petinggi Merpati yang sedang kesulitan armada, tentu saja girang dengan tawaran itu. September 2005 Direktur Merpati menyampaikan persyaratan pengajuan pembelian kepada kedutaan China di Jakarta. Sebulan berselang disusul penandatangan MoU antara Merpati dengan XAC. Proses penjajakan pembelian tuntas sudah.
Lalu berlanjut ke tahap pematangan. Karena Merpati adalah perusahaan BUMN, maka bussines plan harus disetujui badan itu. Itu sebabnya Maret 2006 petinggi Merpati mengajukan rencana bisnis itu ke Menteri BUMN. Dari situ rencana itu diteruskan Menteri Bappenas, lalu Menteri Keuangan.
Mei 2006 Direktur Utama Merpati meminta persetujuan Menteri BUMN untuk memanfaatkan fasilitas concessional loan dari China, guna pembelian 15 pesawat MA-60. Dari sana permohonan itu diteruskan ke Bappenas, lalu Menteri Keuangan.
Lalu Juni 2006 Merpati dan XAC menandatangani pembelian 15 pesawat dengan harga US$232 juta. Dan pada tanggal 28 November 2006, kedua perusahaan menandatangi MoU penyewaan 1 hingga 3 pesawat MA-60 itu. Mengapa harus sewa? Karena proses pembelian belum juga tuntas.
Baru pada 22 Mei 2007, Kepala Bappenas menyetujui pembelian 15 pesawat itu melalui skema pinjaman lunak dari China. Harga total 15 pesawat US$232 juta.