SOROT 135

Bagaimana Merpati China Datang?

Direktur Utama Merpati Kapten Sardjono Jhony Tjitrokusumo
Sumber :
  • ANTARA/Prasetyo Utomo

Itu sebabnya, kata sumber VIVAnews.com di BUMN pemerintahan, Said Didu yang saat itu menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina, melakukan kajian ulang. Usia produktifnya dikaji ulang dan kemampuan terbangnya dikurangi. Secara otomatis harga berkurang.

img_title 21.400 Batang Ganja Ditemukan di Yahukimo Papua, Diduga Terkait Aktivitas OPM

Dari hasil kajian Tim Said Didu, kata sumber itu, harga pesawat itu diperkirakan sekitar US$11-12,5 juta. “Itu harga yang masuk akal,” kata sumber itu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tapi Jusuf Kalla tetap menolak. Itu sebabnya Kalla meminta Direktur Utama Merpati mengubah kerjasama ini. Dari skema jual beli menjadi skema sewa( leasing). Merpati kemudian menyampaikan arahan dari Wakil Presiden itu kepada Menteri Keuangan.

img_title Menteri Pertanian Amran Sampaikan Duka Cita Mendalam atas Insiden Penembakan di Papua Pegunungan

China menolak keras perubahan kontrak itu. Tanggal 27 Agustus 2008 XAC menegaskan bahwa mereka sudah siap menyerahkan 13 sisa pesawat dari 15 yang sudah disepakati. Sebulan sesudahnya XAC mengirim surat kepada Menteri Keuangan agar mempercepat proses SLA untuk pengadaan 15 pesawat itu.

Pemerintah kita tidak kompak menghadapi masalah ini. Wakil Presiden Jusuf Kalla tetap menolak. Tanggal 24 September 2008, Menteri BUMN mengirim surat kepada Menko Perekonomian, Menteri Keuangan dan Kepala Bappenas.

img_title 3 ASN Dinas Pertanian Ditembak Mati di Papua, Pelakunya Ternyata KKB Kodap III Ndugama

Dalam surat itu Menteri BUMN meminta agar dibentuk Tim Negosiasi. Tim itu harus melakukan renegosiasi atas kontrak kerjasama ini. Artinya proses yang sudah dimulai dari tahun 2005 itu, dimulai dari awal.

Ada tiga hal yang harus direnegosiasi. Harga pesawat. Keandalan pesawat. Serta mengusulkan komposisi SLA 50 persen dan PMN 50 persen. Belum lagi usulan renegosiasi itu dibahas, tanggal 16 Oktober 2008, XAC mengirim surat kepada Merpati.

Surat itu bernada mengancam. Dia meminta agar Merpati menghentikan operasi dua pesawat MA-60 yang sudah ada di Indonesia. Jika hingga tidak diindahkan, Merpati akan diseret ke arbitrase internasional. Merpati terancam dituntut Rp1 triliun. Hubungan dagang yang bermula dari saling butuh itu, berubah menjadi saling mengancam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Setelah melewati berbagai negosiasi ulang, akhirnya tangal 16 April 2010 disepakati Amandemen to Purchase Contract pembelian ini. Dalam wawancara dengan VIVAnews.com, Said Didu menegaskan bahwa ada tiga point penting dalam perubahan itu,

Pertama, XAC bertanggungjawab penuh atas spare part, memberi garansi serta airworthiness certification selama 25 tahun sejak. Kedua, XAC member garansi buyback sesuai nilai buku, apalagi pesawat dihentikan operasinya karena kerusakan  karena kegagalan desain, proses frabrikasi dan tidka bisa diperbaiki oleh XAC. Ketiga, harga pesawat per unik menjadi US$ 11,206 juta.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut