SOROT 135

Bagaimana Merpati China Datang?

Direktur Utama Merpati Kapten Sardjono Jhony Tjitrokusumo
Sumber :
  • ANTARA/Prasetyo Utomo

Lebih dari setahun kemudian, tanggal 5 Agustus 2008, pemerintah Indonesia lewat Dirjen Penggelolaan Utang Departemen Keuangan bersama perwakilan pemerintah China dan Bank Exim China menandatangani Government Concessional Loan Agreement for The Procurement of Aircraft for National Airbridge Project. Semenjak itu proses pembelian ini tuntas sudah. Tinggal menunggu serah terima pesawat.

img_title 2 Orang Pengedar Ganja Ditangkap di Biak Papua, Polisi Sita Barang Bukti 1 Kg

Proses serah terima itu dimulai Agustus 2007. Dua pesawat MA-60 diserahkan dengan pola sewa operasional. Bagi Merpati ini semacam test drive guna mengetahui kemampuan pesawat itu. Pada Mei 2008 Departemen Keuangan menyampaikan kepada Bappenas tentang indikasi kemampuan Merpati mengembalikan pinjaman lunak dari China itu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tak berapa lama berselang XAC mengirim surat kepada Direktur Utama Merpati bahwa kontrak penjualan sudah berlaku efektif tanggal 5 Agustus 2011. Belum setahun beroperasi pesawat itu menggalami gangguan.

img_title Penembak Mati 3 Pegawai Dinas Pertanian di Papua Ternyata DPO Kasus Penyanderaan Pilot Susi Air

Terjadi keretakan pada pemegang batang ekor vertikal pesawat, yang secara teknik disebut rudder. Laporan soal rudder yang eror itu masuk dua kali. Tanggal 8 Mei dan 12 Agustus 2009.

Pihak XAC lalu memperbaiki kerusakan itu. Otoritas penerbangan China lalu mengesahkan perubahan itu. Juga memberi jaminan keamanan dan keselamatan atas perbaikan itu. Tak berapa lama sesudah itu Dirjen Perhubungan Udara menegaskan bahwa MA-60 yang sebelumnya digrounded sudah layak terbang. Tapi kasus ini belum tuntas juga. Banyak ganjalan.

img_title 3 ASN Dinas Pertanian yang Ditembak Mati Malah Dituding Intel TNI, KSAD: Mereka Pekerja Pertanian


Jusuf Kalla, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden, menuturkan bahwa dia sempat menolak pesawat itu lantaran tidak memiliki ijin AFA. “Saya menolak karena pesawat itu tidak memiliki sertifikasi AFA,” kata Kalla.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Semua pesawat itu memang belum mendapat sertifikasi dari standar kelaikan pesawat Amerika Serikat (FAA). Namun, pesawat ini telah mendapat sertifikasi kelaikan udara dari Civil Aviation Administration of China (CAAC).

Selain itu, Jusuf Kalla menilai bahwa harga pesawat itu juga terlalu mahal. Pada kontrak awal memang disebutkan bahwa harga tiap unit pesawat US$14,1 juta. Harga setinggi itu juga meliputi peralatan pendukung meliputi: airborne equipment, buyers optional equipment, training device dan crew and engineers training. Harga setinggi itu, juga lantaran gambaran usia produktif pesawat ini terlalu optimistis. Kemampuan terbangnya digambarkan terlalu optimistis.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut