- merpatikualalumpur.wordpress.com
Jenis mesin ini irit bahan bakar untuk pesawat berkecepatan rendah atau sedang yang terbang rendah (400 mil per jam/30.000 kaki). Melalui teknologi maju, selain irit, mesin ini juga menghasilkan tingkat kebisingan rendah, dan mampu meluncurkan pesawat berkecepatan 400 mil per jam.
Dudi menjelaskan, semburan gas di mesin jet itu akan memutar turbin. Lalu memutar propeller dan gigi-gigi di dalam. Bahkan, panel kokpitnya seperti dimiliki pesawat-pesawat buatan negara Barat. "Yang perlu diluruskan adalah salah kaprah pesawat ini perlu disertifikasi oleh FAA. Sertifikasi FAA tak mutlak. Soalnya, pesawat ini tak beroperasi di wilayah Amerika Serikat," ujarnya.
Dia mencontohkan sertifikasi itu seperti surat izin mengemudi (SIM). Sebelum mendapat SIM internasional, pengemudi harus punya SIM lokal dulu. "Jadi, kalau hanya digunakan di sini, sertifikasi Indonesia sudah cukup”. Apalagi, sertifikasi oleh Dewan Sertifikasi Keselamatan Udara (DSKU) juga mengadopsi peraturan FAA dan standar internasional lain.
Komisaris Utama Merpati Nusantara Airlines, M Said Didu, juga pernah merasakan terbang 20 jam dengan pesawat MA-60 itu. “Pesawat ini dikendalikan dengan cara autopilot, dan cockpit-nya mirip Airbus,” ujar Said Didu.
Dilihat dari spesifikasinya, kata Said, pesawat ini memakai kokpit teknologi Amerika Serikat (AS). Mesinnya perpaduan teknologi AS dan Kanada, seperti lazim dipakai banyak maskapai. Sayapnya berteknologi Rusia. “Hanya badan pesawat yang dibangun China”.
Said Didu mengaku menempuh rute dari China sampai ke Indonesia. Dia bertolak dari Xian, lalu singgah di Kunming, Bangkok, Medan, lalu ke Jakarta. Apakah dia cemas? “Tidak. Saya nyaman sekali. Di pesawat, kami santai sambil main kartu remi,” ujarnya. (np)