Sumber :
- www.newslinemagazine.com
VIVAnews -
Penghuni rumah itu hanya mereka bertiga. Farman Ali, Arif Ali dan sang ayah. Pada pagi April 2011 itu, ketika sejumlah polisi datang, Arif sedang terlelap di ranjang. Mendengkur di sudut salah satu ruang. Sedang Farman tak di rumah. Entah ada di mana. Polisi yang datang cukup banyak.
Arif yang usianya mengancik 30 tahun itu, terlihat gugup mengetahui aparat negara itu datang. Meski dia berusaha tenang, raut kikuk begitu gampang ditangkap dari wajahnya. Para polisi itu cepat begerak. Mereka sigap memeriksa setiap sudut.
Rumah ini tak begitu besar. Mempunyai gudang dengan dua kamar tidur. Pada gudang itu banyak ranting pohon. Ranting kering. Berseliweran tak teratur. Juga tumpukan puing dari dinding yang nyaris runtuh.
Pintu salah satu kamar itu terlihat terbuka. Dan kamar itu berantakan tak terurus. Di dalam situ ada tempat tidur untuk bayi. Ini kamar Arif. Satu kamar lagi sedang terkunci rapat. Polisi kemudian meminta kunci kamar itu.
Â
Begitu pintu terbuka, bau busuk merubung hidung. Polisi, juga sejumlah tokoh masyarakat yang ikut ke situ, sontak menutup hidung. Bau busuk. Disambut bau tak terkira seperti itu, mereka nekat merangsek masuk.
Kari Mayat Demi Kesaktian
Sampai di dalam kamar itu, para polisi ini terkejut alang kepalang. Inspektur Fakhar Bhatti, pejabat polisi yang memimpin penggerebekan ini, mengisahkan apa yang terjadi di dalam sana. Di tengah ruangan ada periuk berisi daging kari. Dekat periuk itu ada papan kayu. Ada kapak dan pisau dapur berukuran besar. “Ada sisa-sisa lemak menempel di papan dan kapak," kisah Bhatti.
Sampai di situ, yang dicari para polisi itu belum ditemukan. Tapi tanda-tandanya sudah terlihat. Dan itu datang dari semut. Gerombolan semut beriring-iringan di kamar itu. Polisi itu menelusuri iringan itu, yang berakhir di bawah tempat tidur. Di situ ada beberapa karung pupuk. Ditarik keluar. Semua tercengang. Di dalamnya ada potongan tubuh manusia.
"Itu membuat saya merinding. Mereka telah memotong mayat dan membuatnya jadi kari. Kami mendapatkan hasilnya di laboratorium di Multan," kata Bhatti. Semua orang yang menyaksikan pemandangan itu disergap kenggerian tak terkira.
Arif yang usianya mengancik 30 tahun itu, terlihat gugup mengetahui aparat negara itu datang. Meski dia berusaha tenang, raut kikuk begitu gampang ditangkap dari wajahnya. Para polisi itu cepat begerak. Mereka sigap memeriksa setiap sudut.
Rumah ini tak begitu besar. Mempunyai gudang dengan dua kamar tidur. Pada gudang itu banyak ranting pohon. Ranting kering. Berseliweran tak teratur. Juga tumpukan puing dari dinding yang nyaris runtuh.
Pintu salah satu kamar itu terlihat terbuka. Dan kamar itu berantakan tak terurus. Di dalam situ ada tempat tidur untuk bayi. Ini kamar Arif. Satu kamar lagi sedang terkunci rapat. Polisi kemudian meminta kunci kamar itu.
Â
Begitu pintu terbuka, bau busuk merubung hidung. Polisi, juga sejumlah tokoh masyarakat yang ikut ke situ, sontak menutup hidung. Bau busuk. Disambut bau tak terkira seperti itu, mereka nekat merangsek masuk.
Kari Mayat Demi Kesaktian
Sampai di dalam kamar itu, para polisi ini terkejut alang kepalang. Inspektur Fakhar Bhatti, pejabat polisi yang memimpin penggerebekan ini, mengisahkan apa yang terjadi di dalam sana. Di tengah ruangan ada periuk berisi daging kari. Dekat periuk itu ada papan kayu. Ada kapak dan pisau dapur berukuran besar. “Ada sisa-sisa lemak menempel di papan dan kapak," kisah Bhatti.
Sampai di situ, yang dicari para polisi itu belum ditemukan. Tapi tanda-tandanya sudah terlihat. Dan itu datang dari semut. Gerombolan semut beriring-iringan di kamar itu. Polisi itu menelusuri iringan itu, yang berakhir di bawah tempat tidur. Di situ ada beberapa karung pupuk. Ditarik keluar. Semua tercengang. Di dalamnya ada potongan tubuh manusia.
"Itu membuat saya merinding. Mereka telah memotong mayat dan membuatnya jadi kari. Kami mendapatkan hasilnya di laboratorium di Multan," kata Bhatti. Semua orang yang menyaksikan pemandangan itu disergap kenggerian tak terkira.
Halaman Selanjutnya