- VIVA.co.id/Purna Karyanto
Ia mengaku sedih setiap gurunya memberi PR. Bukan karena saya ingin mengerjakan, tapi sulit kalau harus mengerjakan malam hari. Pasalnya, sepulang sekolah ia harus membantu neneknya mengumpulkan kayu bakar untuk memasak di rumah juga ditukar dengan beras jika kayu yang didapatkan lumayan banyak. “Aku dan nenek tidak bisa hanya mengandalkan uang kiriman ibu yang bekerja sebagai buruh pabrik di Bekasi,” ujarnya.
Selain itu, di kampungnya saat itu belum ada listrik sehingga jika PR tidak selesai di siang hari, maka ia harus mengerjakannya di tengah temaram. Lampu minyak yang harus dijaga dengan tangan tanpa jemari neneknya agar tidak mati tertiup angin. “Aku sangat sedih kalau harus merepotkan Emma. Tapi yang membuatku lebih sedih adalah saat sampai di sekolah, ibu guru sering kali tidak masuk karena berbagai alasan,” ujarnya.
Selain itu, pengalaman yang tak pernah dia rasakan adalah saat istirahat. Jika kawan-kawannya berlarian ke kantin untuk jajan, Heni memilih memilih di gudang. Selain karena tak punya uang, di gudang bekas perpustakaan itu ada sejumlah buku yang masih bisa dibaca. “Di gudang tua itulah aku berkeliling Indonesia melalui buku-buku Sutan Takdir Alisjahbana , AA Navis , Pramoedya Ananta Toer , Petualangan Huckleberry Finn , hingga NH Dini. Dari buku NH Dini inilah aku tahu bahwa di luar kampungku ada satu negara indah yang bernama Paris. Dari buku NH Dini pula aku bercita-cita naik pesawat,” ujarnya sambil tersenyum.
Setelah tamat SD dengan nilai Ujian Nasional tertinggi di sekolahnya. Heni memutuskan melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. “Aku memilih melanjutkan sekolah ke SMP. Pilihan yang tak biasa bagi anak miskin di kampungku saat itu,” ujarnya.
Berbekal uang pesangon ibunya, Heni mendaftar ke SMP yang berada di kecamatan. Sekolah yang jaraknya dua kali lipat lebih jauh dibandingkan SD di desa. Namun tekad Heni sudah bulat. Dia harus menempuh perjalanan selama dua jam berjalan kaki saat berangkat sekolah dan dua jam saat pulang. “Karena Ibu dan Emak jarang sekali memberiku uang saku, setiap hari aku membawa bekal ke sekolah. Meski hanya nasi dan lauk seadanya, tapi bekal itu bisa mengganjal perutku selama di sekolah,” kisahnya.