SOROT 420

Memilih untuk Mengabdi

Heni Sri Sundani memilih pulang ke kampung halamannya di Ciamis, Jawa Barat untuk menjadi guru bagi anak-anak kurang mampu.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Purna Karyanto

Hari menjelang siang. Heni mengajak anak didiknya untuk turun ke sawah yang bertahan berada di samping kelas. Dia langsung meminta para siswa menanam daun bawang. Dengan cekatan dia memberi teori dan menunjukkan cara menanam dan merawat daun bawang. “Ada yang tahu cerita Bawang Merah dan Bawang Putih?” ujar Heni bertanya. Anak-anak petani ini pun berlomba mengacungkan jari. 

img_title Panduan Pintar Mengatur Keuangan untuk Generasi Muda: Dari Frugal Living hingga Investasi

Gerakan Anak Petani Cerdas

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mengajar anak-anak petani merupakan bagian dari keseharian Heni. Penggagas Gerakan Anak Petani Cerdas ini sudah menjadi guru bagi anak-anak kurang mampu sejak 2011 lalu. Usai kuliah selesainya di St.Mary's University, Hong Kong, Heni memilih pulang ke kampung halamannya di Ciamis, Jawa Barat.

img_title Seni Thriving, Bukan Sekadar Surviving: Cara Menjaga Work-Life Balance di Era Serba Cepat

Mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) ini miris melihat kondisi kampungnya. Berbekal buku-buku yang dibawa dari Hong Kong, Heni perpustakaan di rumah orangtuanya. Dan itu menjadi perpustakaan pertama di kampungnya. Berawal dari perpustakaan itu, banyak anak-anak petani yang mau belajar, mulai dari mengerjakan pekerjaan rumah (PR), membaca buku, bermain hingga belajar komputer gratis.

Aktifitas itu ia melanjutkan saat pindah ke Bogor pada 2012. Di Kota Hujan ini ia sempat mengajar di sekolah swasta elite dengan gaji selangit. Namun, ia meninggalkan sekolah mewah itu dan memilih anak-anak. 

img_title Lumbung Padi yang Melimpah Modal: Transformasi Karawang Menjadi Pusat Rotasi Uang Nasional

Heni Sri Sundani

Penggagas Gerakan Anak Petani Cerdas ini sudah menjadi guru bagi anak-anak kurang mampu sejak 2011 lalu. (VIVA.co.id/Purna Karyanto)

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Awalnya, Heni dan suaminya ingin menjenguk asisten rumah tangganya yang sedang sakit. Namun, kagetnya mereka saat melihat kondisi keluarga dan masyarakat tempat ART tinggal. “Dari bibi yang bekerja pada kami menyadarkan kami bahwa banyak sekali warga kampung sekitar yang hidup tidak layak,” ujar Heni.

Menurut dia, sebagian besar ibu-ibu bekerja sebagai pembantu rumah tangga di perumahan. Sementara para suami bekerja sebagai buruh tani, tukang ojek atau buruh kasar dengan upah murah. “Dan yang membuat aku sedih adalah banyak di antara mereka yang tinggal di rumah-rumah reot yang dibangun hingga tiga keluarga. Padahal satu keluarga memiliki tiga hingga sebelas anak,” tambahnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut