- Antara/R. Rekotomo
Apa yang disebut revitalisasi oleh Pemerintah Kota Surabaya sebatas polesan saja. Revitalisasi polesan yang paling mencolok ialah di Jalan Tunjungan.
“Paling hanya mengecat dan memasangi lampu, setelah itu tidak tahu harus diapakan,” katanya.
Sebagai pengelola Heritage Peneleh Walk, Kuncoro merasakan betapa kepedulian Pemkot Surabaya pada kampung-kampung tua belum maksimal. Pemilik bangunan tua masih dibebani dengan pajak bumi dan bangunan, serta biaya perawatan.
"Untuk memelihara bangunan tua saja, pemilik harus mengajukan anggaran setelah ada kerusakan. Semestinya pemeliharaan itu inisiatif dari pemerintah,” katanya.
Namun, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya, Widodo Suryantoro, belum dapat ditemui ketika hendak diminta keterangan terkait revitalisasi gedung atau kampung bersejarah di Surabaya. “Nanti saya kabari, Bapak jadwalnya padat,” kata Cici, ajudan Widodo ketika VIVA.co.id meminta jadwal wawancara.
![]()
Salah satu bangunan warisan tua yang berada di kawasan kota tua Palembang. (VIVA.co.id/Aji YK Putra)
Kondisi miris terbengkalainya bangunan warisan budaya juga terlihat di kota tua, Palembang. Kampung Kapitan, yang berada di Jalan KH Azhari kawasan 7 Ulu, salah satunya. Kampung ini merupakan saksi berakhirnya Kesultanan Palembang.
Di kampung ini ada tiga bangunan rumah kuno massa pemerintahan Kapten asal Tiongkok, Tjoa Kie Tjuan, (1830-1853). Ketiga rumah berbentuk limas telah berusia lebih dari satu abad dan nyaris hancur.
Padahal, sejarah peradaban Tiongkok masuk ke Palembang menjadi daya tarik para wisatawan domestik dan mancanegara untuk berkunjung ke Kampung Kapitan. Mulyadi, keturunan kesepuluh Kapten Tjoa, hingga kini masih membuka pintu bagi wisatawan untuk berkunjung ke rumahnya.
"Tinggal bagian depan saja yang bisa dimasuki (wisatawan). Di belakang rumah sudah keropos. Nanti roboh," ujarnya.
Pemkot Palembang cenderung abai untuk melestarikan warisan budaya Tiongkok tersebut. Walaupun berusia ratusan tahun, hingga kini rumah tersebut belum masuk dalam salah satu cagar budaya.
Mulyadi mengaku, warga asal Malaysia sempat ingin membeli rumah bersejarah tersebut seharga Rp30 miliar. Karena ingin mempertahankan peninggalan leluhur, Mulyadi tetap keukeuh untuk tidak menjual rumah Kapitan.