SOROT 462

N219, Penyambung Asa

Pesawat N219 mendapat sambutan meriah dari masyarakat di Bandung begitu mendarat.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra

Sejatinya, master testing plan N219 semula dijadwalkan pada 2009, kemudian target maiden flight pada awal 2016. Menurut Kepala Program N219 dari Lapan, Agus Aribowo, yang menyebut uji coba kemarin sebagai The First Engineering Development Flight Test, lamanya kemunduran yang ditargetkan dari jadwal sebelumnya, dikarenakan PT DI kehilangan banyak engineer terbaik yang merancang N219 sejak awal. Ini memberikan pengaruh psikologis engineer yang lain sehingga tidak yakin 100 persen dengan hasil perhitungan dan analisa mereka. [Baca juga: Kepak Sayap Adik Gatotkaca]

img_title Sebentar Lagi Indonesia Alami Fenomena Ekuiluks

“Ini menyebabkan terjadiya iterasi desain hingga berkali-kali sampai mendekati sempurna. Desain mundur cukup lama. Ini dimaklumi karena tidak ada satu orang bule atau technical assistant dari luar negeri yang mendampingi mereka. Terbang kemarin itu membuktikan dan memberikan kepercayaan luar biasa kepada para engineering bahwa perhitungan dan analisa mereka tidak perlu diragukan,” kata Agus. [Lihat infografik: Jatuh Bangun PT DI]

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski bergeser jauh dari target, semua orang bangga dengan suksesnya uji terbang pesawat perintis N219 hari ini. Ini artinya, pintu pasar pesawat perintis di Indonesia terbuka lebar.

img_title Puncak Hujan Meteor Quadrantid Terjadi Sebelum Subuh

Selanjutnya...Trauma N250

img_title Penampakan Gerhana Bulan Sebagian di Indonesia

Trauma N250

Pesawat N250

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Proyek pesawat N250 dipaksa berhenti akibat krisis ekonomi 1997. (Eka Viation)

Pesawat N219 ini membawa pula kenangan akan N250, lebih dari 20 tahun lalu. Pada 10 Agustus 1995, Indonesia mencetak sejarah dengan menerbangkan pesawat lokal, Gatotkaca N250. Suasana kesuksesan terbang perdana N250 disambut meriah, lebih meriah ketimbang N219. Disaksikan pejabat tinggi pemerintahan - termasuk Presiden Soeharto dan Menristek BJ Habibie -  disiarkan televisi, dan ditunggu oleh masyarakat Asia.
 
Namun kegembiraan itu ternyata tak berlangsung lama. Dua tahun kemudian krisis ekonomi melanda Asia dan Indonesia pada 1997. Proyek ini dipaksa berhenti oleh IMF yang datang memberi bantuan ke Indonesia untuk keluar dari krisis. IMF mencairkan bantuan dengan berbagai syarat. Mantan Menteri Perhubungan, Jusman Syafii Djamal dengan tegas mengatakan IMF menjadi biang kegagalan Indonesia untuk mendiri membuat pesawat.
 
Dalam nota kesepakatan (letter of intent) yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto dengan IMF pada 15 Januari 1998, pemerintah/APBN dilarang menggelontorkan dana seperak pun untuk IPTN (sekarang PTDI). Praktis proyek N250 kemudian dimatikan. Padahal industri penerbangan nasional kala itu sudah siap menjadi system integrator.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut