- REUTERS/Edgar Su
![]()
Seorang gadis mengambil foto temannya menggunakan handphone di sebuah taman di Jakarta. (REUTERS/Agoes Rudianto)
Generasi Z lahir dan tumbuh di era revolusi teknologi. Berdasarkan survei Nielsen di 11 kota besar di Indonesia, internet telah dikenal oleh Gen Z sejak usia yang masih sangat muda. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, 45 persen dari anak-anak usia 10-14 tahun telah memiliki akses ke internet atau naik dari 40 persen.
Sementara di kalangan remaja, 81 persen di antara mereka telah terkoneksi dengan dunia maya atau naik dari 60 persen. Interaksi remaja dengan internet juga lebih tinggi daripada Generasi Millennial yang hanya 56 persen atau naik dari 27 persen dalam tiga tahun. Selain untuk mengakses internet dan berkirim pesan, Gen Z juga memanfaatkan teknologi ponsel cerdas untuk memotret, mendengarkan musik, dan bermain game.
Nielsen menulis, sebagai generasi yang melek digital, mereka mungkin terlihat mirip dengan Generasi Millennial, namun sebenarnya mereka berbeda. Sementara para Millennial masih memasang swafoto mereka di Facebook seperti halnya Gen X, Gen Z memilih platform yang lebih instan, seperti Snapchat atau Instagram Stories, di mana imaji akan hilang hanya dalam periode waktu yang singkat.
Jika Millennial mengedit foto dan video mereka sebelum dipajang di media sosial supaya mendapat sebanyak-banyaknya 'suka' dan komentar, Gen Z sangat menikmati berbagi cerita melalui sudut pandang mereka di Snapchat di mana video mereka hanya bertahan selama 24 jam sebelum hilang untuk selamanya dan berganti dengan cerita lain di hari-hari berikutnya.
Selanjutnya, Generasi Unik
Generasi Unik
Generasi Z di ranah informal lebih luwes disebut sebagai Kids Jaman Now, direvisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui Twitternya pada 18 Oktober 2017, menjadi Kids Zaman Now. Tentu saja, frasa tersebut adalah bahasa gaul yang marak digunakan di media sosial dan menjadi tema kekinian yang populer.
Kids Zaman Now hanya satu dari ribuan bahasa pop yang menambah khazanah berbahasa. Tak hanya dari Generasi Z, tapi juga generasi lain sebelumnya. Sosiolog Universitas Indonesia, Daisy Indira Yasmine, menjelaskan, struktur di dunia digital, seperti perangkat gawai, media sosial, dan ragam aplikasi dapat membentuk sebuah kultur. Salah satu simbol kultur itu adalah bahasa, tak heran, intensitas komunikasi dengan instrumen digital yang tinggi membentuk bahasa-bahasa baru dari platform digital tersebut.