- REUTERS/Edgar Su
![]()
Sejumlah anak menggunakan gadget di Jakarta. (REUTERS/Beawiharta)
Sejumlah orangtua yang kami temui pun sudah banyak yang memahami hal ini. Ferry Edyanto (46), ayah dari remaja perempuan berusia 12 tahun berbagi pengalamannya memiliki anak yang terkategori Generasi Z. Putrinya, Regina, sudah belajar memakai gawai miliknya sejak berusia 5 tahun dengan tujuan hanya untuk hiburan semata.
Sadar akan ketergantungan internet yang begitu besar, Ferry mengatakan membatasi biaya Rp100 ribu saja per bulan untuk bujet kuota data. "Itu sama dia di-pas-pasin sebulan harus segitu dari saya," katanya.
Dia pun termasuk orangtua yang membebaskan anaknya berselancar di dunia maya, tapi dengan batasan. Ferry juga tetap menjaga komunikasi dengan anaknya, yakni dengan tak membiarkannya menyendiri di kamar. Dia dan putrinya harus tetap saling mengobrol meski ada ponsel di antara mereka. "Saya kasih kesempatan Hp di tangannya usai pulang sekolah. Tapi saat belajar di rumah, Hp dimatikan. Kalau tidak belajar, main Hp boleh, saya tidak larang," katanya.
Serupa dengan Tina (45) yang memiliki anak laki-laki 16 tahun bernama Daniel. Karena banyak dipakai untuk bermain game dan komunikasi dengan teman-teman, Tina membiayai anaknya Rp200 hingga Rp300 ribu per bulan untuk bujet kuota data internet. Dia pun mengaku tetap menyempatkan diri berbicara dengan putranya meski pulang kerja larut malam.
Sementara itu, ibu dari Fiqy, Yuni (55), mengaku sempat syok dengan karakter Generasi Z tersebut. Lahir sebagai Generasi Baby Boomer, Yuni cukup bingung menghadapi putri bungsunya. Di pandangannya dulu, terlalu banyak paparan buruk yang dikhawatirkannya akan menempatkan Fiqy pada bahaya moral dan sosial. "Fiqy selalu main Hp dan saya khawatir dia terjerumus hal-hal negatif," katanya.
Namun perlahan, Yuni sadar, dunia terus bergerak dan teknologi jadi barang tak terelakkan. Untuk bisa menjaga putrinya, dia pun berusaha memahami dunia tersebut. Sesekali Yuni menanyakan apa yang sedang dilakukan Fiqy dengan ponselnya, bahkan ikut belajar demi melek media sosial.
"Sekarang tinggal mengawasi saja dan tetap enggak bosen ingetin untuk hati-hati main internet, jangan buka yang aneh-aneh, apalagi ketemuan sama orang enggak dikenal, jangan lupa juga istirahat. Kasihan, mata capek kalau lihat layar Hp terus," tuturnya.