- REUTERS/Edgar Su
Namun Daisy menilai itu sebagai perkembangan yang sangat wajar terjadi, karena struktur memang dapat membentuk kultur. Mulai dari bahasa, percakapan, cara bicara. Â
"Misalnya di Twitter, kita memiliki keterbatasan kata di aplikasi itu ketika ingin meng-update status, otomatis, kalau dia sering main Twitter tentu dia akan terbiasa menyampaikan sesuatu dengan kalimat yang pendek-pendek atau singkat-singkat. Jadi itu salah satu contoh, struktur dapat mengubah suatu kultur," terangnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 19 Oktober 2017.
Senada dengan Daisy, Retno Listiyarti, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia setuju munculnya bahasa-bahasa baru adalah hal yang wajar.
"Setiap generasi mempunyai pola bahasa tersendiri yang ada di zamannya dan hanya dimengerti oleh generasinya, itu hal yang biasa. Pasti akan selalu ada bahasa-bahasa seperti itu, enggak apa, bukan hal yang salah atau bukan hal yang menyimpang. Saat kita remaja juga kan mempunyai bahasa-bahasa tersendiri sehingga tidak masalah terkait bahasa," ujarnya menambahkan.
![]()
Sejumlah orang mengambil foto seorang model sebelum tampil. (REUTERS/Philippe Wojazer)
Kids Zaman Now juga kerap dianggap sebagai remaja-remaja serba instan dan malas. Sosiolog Daisy mengatakan, kecanggihan teknologi memang membuat generasi ini lebih terbiasa dengan instrumen-instrumen digital yang serba cepat dan instan. Namun, Generasi Z sebenarnya lebih kritis karena memiliki akses informasi yang tanpa batas. Tentu saja, efek negatifnya, Generasi Z punya kecenderungan lebih malas dan risiko termakan hoaks alias berita bohong atau sesat.
"Generasi Z ini dapat mengakses atau mencari tahu informasi yang mereka butuhkan dengan cepat, jadi mereka itu lebih kritis terhadap informasi yang mereka peroleh, karena mereka bisa dengan cepat mengkroscek, di samping juga tetap memiliki kecenderungan mendapatkan informasi hoaks, karena kan yang namanya informasi di internet itu bisa dengan mudah dan cepat dibuat dan disebarkan oleh semua orang, itu permasalahan tersendiri," ujarnya.
BBC pun melakukan survei terhadap anak muda Generasi Z, menanggapi hasil studi Ipsos untuk Newsbeat yang mengatakan bahwa generasi lebih tua melihat mereka sebagai pribadi yang malas dan egois. Hasilnya, lebih dari 1.000 orang Gen Z menyangkal hal tersebut. Mereka malah mengaku sangat peduli dengan keluarga, pendidikan, dan bukan hanya soal selebriti dan media sosial.