Teater Soekarno

Kolase Foto -Wapemred tvonenews.com Ecep S Yasa, background teater Soekarno di Ende.
Sumber :
  • tim tvonenews

Tinggal di Ambugaga, di sebuah kampung dengan rumah rumah pondok beratap ilalang, tanpa listrik dan air bersih; yang jika ingin mandi, mesti pergi ke Wola Wona, sebuah sungai yang mengalirkan air dingin; Soekarno di Ende seperti berhenti sebagai mitos.

img_title Mengapa G30S PKI Bisa Terjadi? Begini Penjelasan Sejarahnya

Ia merasakan jadi kepala keluarga yang harus bekerja berjualan kain, karena santunan dari Belanda tak cukup untuk menopang kehidupan sehari hari. Ia dijauhi oleh orang-orang kaya setempat yang antipolitik karena hidupnya sebagai kaki tangan Belanda. Ia hanya bisa bergaul dengan kalangan bawah, nelayan dan petani yang tak dapat membaca dan menulis. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Satu satunya yang bisa ia lakukan dalam kesepiannya adalah bermain teater, dan sejarah lalu mencatat Soekarno menggeluti dunia panggung dengan sangat serius. 

img_title Kemlu RI Bantu Pemulangan Jenazah Yurike Sanger, Istri ke-7 Soekarno

“Aku memerlukan pendorong, jika tidak aku akan mati,” katanya tentang keterlibatannya dengan dunia panggung.

img_title GKR Hemas Pimpin Program Senator Peduli Ketahanan Pangan, Bakal Tanam Jagung di NTT

(Dok - Soekarno saat menjalani masa pengasingan di Ende. Sumber: Kemdikbud)

Mulanya Soekarno menulis naskah Dr Setan. Ia mengaku terinspirasi dari Frankenstein. Alkisah, Boris Karloff, tokoh utama dalam naskah berusaha menghidupkan mayat dengan melakukan transplantasi hati dari orang hidup. Soekarno ingin memberi pesan, tubuh Indonesia yang sudah tak bisa bernyawa dapat bangkit dan hidup lagi.
 
Kota, seorang nelayan yang sering berkunjung ke kediaman Soekarno diajaknya bermain teater, Soekarno melatihnya mengucapkan dialog dialog. Kota lalu mengajak Darham, tukang jahit setempat. Secara getok tular perekrutan terjadi hingga berkumpul sekitar 50 orang. Perlahan lahan dunia baru Soekarno tumbuh.  

Soekarno lalu mendirikan Perkumpulan Sandiwara Kelimutu (Kelimutu Toneel Club). Namanya diambil dari danau tiga warna di Flores. Seperti layaknya Rendra, Arifin C Noer atau Teguh karya dalam sejarah teater modern Indonesia, Soekarno berlatih bersama dengan seluruh anggota teaternya setiap hari. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kadang latihan berlangsung hingga jauh malam, hanya diterangi dengan sinar bulan, Soekarno membacakan satu satu petikan naskah pada pemainnya pemainnya. Mereka berlatih menghapal dan mengucapkannya di depan Soekarno secara berulang ulang.

Tak hanya melatih dialog, Soekarno juga menyusun pengadeganannya dengan detil. Ali Pambe, seorang montir mobil yang diberi peran orang yang meninggal, dicontohkan oleh Soekarno bagaimana caranya berbaring di pinggir pantai. Lebih repot, suatu kali, Ali Pambe mendapatkan peran sebagai penerjemah dari Bahasa Ende ke Bahasa Flores. Jatuh bangun Soekarno mengajari Ali Pambe bahasa Indonesia sebelum tampil di panggung.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut