Wajah Bumi di Masa Depan

Planet Bumi
Sumber :
  • NASA

Bagi mereka, penggabungan kembali benua-benua besar itu bukan tidak mungkin terjadi. Daratan pada dasarnya bergerak secara konstan saat terjadi aktivitas tektonik di suatu bagian permukaan bumi.

img_title Suhu Bumi Melejit, Gen Z bisa Jadi 'Game Changer'

Para peneliti geologi itu yakin, dalam kurun miliaran tahun, pergeseran pelat-pelat itu secara berkala juga menggerakkan benua-benua dalam waktu bersamaan. Inilah yang memunculkan hipotesis atas terbentuknya sejumlah super benua bernama Nuna 1,8 miliar tahun lalu, Rodinia satu miliar tahun lalu, dan Pangea 300 juta tahun lalu. 
      
Tim peneliti pun sudah menyiapkan nama baru bila benua-benua besar kembali bersatu, yaitu Amasia. Ini berdasarkan perkiraan bakal bertemunya Amerika dan Asia. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mereka selanjutnya meneliti lebih lanjut kapan dan di mana reuni antarbenua itu terbentuk dengan merujuk pada gejala-gejala pertemuan sebelumnya. 

img_title China Mengguncang Dunia! Luncurkan Otak AI Raksasa ke Luar Angkasa Lewat 2.800 Satelit Superkomputer

"Kami cukup familiar dengan konsep Panaea, namun belum ada data yang cukup meyakinkan untuk menduga bagaimana benua super itu terbentuk," kata Ross Mitchell, peneliti dari Universitas Yale dikutip dari BBC. 

Rovicky mengatakan, untuk memperkirakan wajah bumi di masa depan bisa dilakukan dengan pemodelan. Dia menuliskan, untuk memodelkan daratan bumi, ilmuwan untuk pertamanya perlu mengetahui kecepatan pergerakan kerak-kerak bumi. Setelah itu, masing-masing kerak lempengan bumi ini ditabrakkan.

img_title Arutmin Raih Dua Penghargaan Bina Mitra UMKM Award 2025

Nah, Rovicky mengatakan, kecepatan lempeng tektonik di bumi beragam. Dalam perekaman geologi, kecepatan lempeng tektonik diwakili dengan tanda anak panah, semakin panjang anak panah artinya makin cepat pergerakan lempeng. 

Misalnya Lempeng Indo Australia bergerak dengan kecepatan 7-8 cm per tahun ke arah timur laut, sedangkan Lempeng Eurasia bergerak ke timur. 

Kalau arah lempeng berbeda, maka tercipta tubrukan dan akhirnya menyebabkan gempa. 

Nah berdasarkan pengetahuan kecepatan dan data pergerakan arah lempeng tektonik, Rovicky menuliskan, wajah bumi 50 juta tahun lagi memang akan berubah ke formasi penyatuan antarbenua. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia mengatakan jika gerakan lempeng tektonik yang terjadi masa ini terus berlangsung selama 50 juta tahun ke depan, maka Benua Australia akan menabrak daratan Asia. 

Bagaimana dengan wajah bumi pada 150 juta tahun lagi? Perubahan daratan terjadi. Pada periode ini Samudera Atlantik mulai tertutup, terkungkung di antara benua-benua besar. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut