Seribu Satu Jalan Melawan Kanker
- U-Report
Doktor Teknik Elektro di Shizouka University Jepang itu mengatakan ECVT dan ECCT bisa dikatakan tak ada referensinya di dunia luar, karena keduanya lahir di Indonesia, pertama di dunia. ECVT dan ECCT, kata dia, telah jelas memberikan harapan besar untuk terapi kanker berbasis gelombang energi non-radiasi.
Dengan ECCT, misalnya, kasus yang sudah tidak ada jalan keluar sebelumnya seperti kanker di tengah batang otak atau kanker yang sudah menyebar ke seluruh tubuh masih mungkin dibersihkan dengan ECCT.
Terapi antikanker Warsito ini sudah menyedot ribuan pasien di dalam negeri. Saat ini Warsito mengatakan ada 6 ribu pasien yang aktif, namun yang terpantau aktif mencapai 3 ribu pasien.Â
Bicara soal efektivitas terapinya, Warsito tak mau jumawa. Tapi dia mengatakan faktanya pasien yang sembuh dengan ECCT tak sampai enam bulan. Pasien yang sembuh kurang dari setengah tahun ini mencapai ratusan. Tapi rata-rata pasien yang sembuh dengan terapinya itu rentang dua sampai tiga tahun.Â
"Biasanya benar-benar hilang itu minimal 2.5 tahun. Tinggal pemantauan, kontrol," kata dia kepada VIVA.co.id.
Namun efektivitas teknologi antikanker Warsito itu mendapat ujian dari dalam negeri. Dua kementerian, yaitu Kementerian Kesehatan dan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, meminta evaluasi teknologi tersebut. Alasannya, ingin memastikan teknologi antikanker itu bisa aman diterapkan dalam manusia, nanti kelak jika sudah lulus evaluasi.Â
Kanker bisa dicegah
Meski sangat ganas dan menjadi momok, tapi ada secercah harapan bagi warga dunia. WHO menyatakan 43 persen kanker bisa dicegah, dengan menjalani gaya hidup sehat dan menjauhkan diri dari faktor risiko terserang kanker.Â
Terjadinya penyakit kanker, mengutip keterangan di laman Kementerian Kesehatan, terkait dengan beberapa faktor risiko, seperti kebiasaan merokok, menjadi perokok pasif, kebiasaan minum alkohol, kegemukan, pola makan yang tidak sehat, perempuan yang tidak menyusui, dan perempuan melahirkan di atas usia 35 tahun.Â
"Jika kita menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) maka risiko atau kemungkinan untuk terserang kanker akan berkurang," kata Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek dalam peringatan Hari Kanker Se-dunia tahun ini.