Seribu Satu Jalan Melawan Kanker

Sel kanker.
Sumber :
  • U-Report

Doktor Teknik Elektro di Shizouka University Jepang itu mengatakan ECVT dan ECCT bisa dikatakan tak ada referensinya di dunia luar, karena keduanya lahir di Indonesia, pertama di dunia. ECVT dan ECCT, kata dia, telah jelas memberikan harapan besar untuk terapi kanker berbasis gelombang energi non-radiasi.

img_title 1 dari 2 Penderita Kanker Pasti Butuh Terapi Radiasi

Dengan ECCT, misalnya, kasus yang sudah tidak ada jalan keluar sebelumnya seperti kanker di tengah batang otak atau kanker yang sudah menyebar ke seluruh tubuh masih mungkin dibersihkan dengan ECCT.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terapi antikanker Warsito ini sudah menyedot ribuan pasien di dalam negeri. Saat ini Warsito mengatakan ada 6 ribu pasien yang aktif, namun yang terpantau aktif mencapai 3 ribu pasien. 

img_title Radioterapi Efektif 70 Persen Sembuhkan Pasien Kanker Stadium 1 dan 2

Bicara soal efektivitas terapinya, Warsito tak mau jumawa. Tapi dia mengatakan faktanya pasien yang sembuh dengan ECCT tak sampai enam bulan. Pasien yang sembuh kurang dari setengah tahun ini mencapai ratusan. Tapi rata-rata pasien yang sembuh dengan terapinya itu rentang dua sampai tiga tahun. 

"Biasanya benar-benar hilang itu minimal 2.5 tahun. Tinggal pemantauan, kontrol," kata dia kepada VIVA.co.id.

img_title 90 Persen Kanker Bisa Sembuh dengan Syarat Ini

Namun efektivitas teknologi antikanker Warsito itu mendapat ujian dari dalam negeri. Dua kementerian, yaitu Kementerian Kesehatan dan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, meminta evaluasi teknologi tersebut. Alasannya, ingin memastikan teknologi antikanker itu bisa aman diterapkan dalam manusia, nanti kelak jika sudah lulus evaluasi. 

Kanker bisa dicegah

Meski sangat ganas dan menjadi momok, tapi ada secercah harapan bagi warga dunia. WHO menyatakan 43 persen kanker bisa dicegah, dengan menjalani gaya hidup sehat dan menjauhkan diri dari faktor risiko terserang kanker. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terjadinya penyakit kanker, mengutip keterangan di laman Kementerian Kesehatan, terkait dengan beberapa faktor risiko, seperti kebiasaan merokok, menjadi perokok pasif, kebiasaan minum alkohol, kegemukan, pola makan yang tidak sehat, perempuan yang tidak menyusui, dan perempuan melahirkan di atas usia 35 tahun. 

"Jika kita menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) maka risiko atau kemungkinan untuk terserang kanker akan berkurang," kata Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek dalam peringatan Hari Kanker Se-dunia tahun ini.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut