Babak Baru BlackBerry
- Reuters/Mark Blinch
BlackBerry pun sempat kelabakan, sampai akhirnya menyadari kecolongan pada pasar sistem operasi. Perusahaan pun akhirnya merilis sistem operasi berbasis QNX yang kemudian menggantikan sistem operasi lama BlackBerry 7. Sistem operasi QNX ini kemudian dijuluki BlackBerry 10.
Harapan baru perangkat berbasis sistem operasi BlackBerry 10 nyatanya belum menolong perusahaan dari jurang keterpurukan. Justru usai meluncurkan sistem operasi baru itu, perangkat berbasis sistem operasi BlackBerry 7 masih didominasi penjualan.
Setelah benar-benar tak kalah dalam pasar ponsel pintar, BlackBerry berganti nahkoda ke John Chen pada November 2013. Pada komando Chen, perusahaan mulai fokus pada pada segmen korporasi dan keamanan.
BlackBerry mencoba keberuntungan dengan menjual berbagai perangkat lain, mulai dari perangkat lunak untuk keamanan mobile, perangkat yang membantu layanan kesehatan, pemerintah dan profesional serta sektor keuangan
Tapi berbagai aset perusahaan ini telanjur berkurang. Akibat penurunan performa itu, beberapa aset perusahaan dijual, menurunkan biaya produksi, dan memperluas aplikasi andalannya.
Tak cukup di situ saja, guna mendapatkan stimulus dana, BlackBerry terpaksa juga menjual aset real estate di sekitar markas perusahaan di Waterloo, Ontario Kanada.
Pada November 2014, Chen mengklaim perusahaan telah melewati masa genting. Perusahaan mulai tak kehilangan uang dan bisa fokus untuk mendapatkan laba perusahaan.
Sepanjang 2014, BlackBerry telah meluncurkan BlackBerry Z3 yang semuanya layar sentuh, diikuti BlackBerry Passport, ponsel kotak layar besar Qwerty dan layar sentuh khusus untuk kalangan bisnis. BlackBerry juga bakal merilis seri Classic, yang memiliki desain seperti seri BlackBerry Bold.
Tapi sayangnya, upaya untuk bangkit di pasar ponsel pintar terganggu dengan kerugian setiap tahun. Bahkan menutup tahun 2014, BlackBerry masih menanggung rugi US$148 juta atau Rp1,8 triliun.
Kerugian itu menambah rekor buruk tahun sebelumnya. Pada 2013, BlackBerry merugi hingga US$4,4 miliar atau Rp54,6 triliun. Kerugian pada 2013 disebutkan akibat gagalnya ekspansi perangkat mereka ke pasar.
Berdasarkan angka riset IDC, tercatat pangsa pasar BlackBerry per semester pertama 2014, tinggal 3 persen saja, dengan penjualan 305.585 perangkat. Angka itu merosot tajam dalam tiga tahun terakhir, yang mana pangsa pasar pernah mencapai puncak 43 persen dengan menjual 2,5 juta perangkat.