Babak Baru BlackBerry
- Reuters/Mark Blinch
Sementara data kuartal ketiga 2014, menunjukkan pangsa pasar BlackBerry makin merosot. Data IDC mengungkap pangsa ponsel BlackBerry seluruh dunia tak sampai menyentuh LG Electronics (5 persen), Lenovo (5,1 persen), pendatang baru Xiaomi (5,2 persen) dan makin ditinggalkan oleh Apple (11,7 persen) dan raja Android Samsung (23,7 persen).
Data teranyar yang dirilis awal September 2016, menunjukkan BlackBerry tidak masuk dalam hitungan.
Perusahaan riset Gartner menemukan ada lima, dari 10 vendor smartphone, yang berhasil menaikkan angka penjualannya di kuartal kedua tahun ini. Empat di antaranya adalah smartphone buatan China.
Laporan Gartner, dikutip dari Cellular News, menyebutkan ada total 344 juta unit smartphone yang terjual di kuartal dua tahun 2016 ini. Angka ini menunjukkan peningkatan 4,3 persen dibanding kuartal yang sama tahun lalu
Dalam laporan tersebut, diketahui secara keseluruhan, penjualan ponsel hanya naik 0,5 persen tiap bulan tahun ini. Dari jumlah itu, hanya lima vendor yang menunjukkan tanda-tanda kenaikan pada penjualannya. Selain empat vendor asal China, yakni Huawei, Oppo, Xiaomi dan BBK Communication Equipment, ada juga Samsung buatan Korea Selatan.
Kemudian BlackBerry mencoba meraih untung dengan terjun ke ponsel Andorid, BlackBerry Priv. Perangkat yang sempat disebut sebagai penyelamat terakhir BlackBerry dalam bisnis smartphone itu akhirnya memang tak menjadi juru selamat perusahaan.
Pasar merespons, harga Priv yang dibanderol US$700 dinilai terlalu mahal. Meski kemudian BlackBerry memangkas US$50 harga Priv menjadi US$640 tanpa kontrak operator, tapi perangkat itu tak sukses di pasaran.
Pada laporan kuartal kedua tahun fiskal Blackberry, yang berakhir 31 Agustus, perusahaan itu melaporkan hanya menjual 400 ribu unit smartphone, itu pun termasuk smartphone Priv berbasis Android, dan ponsel Android paling aman di dunia, DTEK50, yang dijual seharga US$$271, atau Rp3,5 jutaan.
Tak bisa meraih momentum lagi di bisnis smartphone, BlackBerry pun akhirnya realistis dan mengangkat bendara putih. Menyerah. Fokus pada software.