Kemudahan Bisnis Belum Capai Target
- VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi
VIVA.co.id – Bank Dunia pada Rabu 26 Oktober 2016 kembali merilis survei terbaru mengenai prospek kemudahan bisnis atau Doing Business 2017 pada 190 negara di dunia. Dalam survei tersebut beberapa negara mengalami kenaikan peringkat, salah satunya adalah Indonesia.
Dalam data tersebut, Indonesia masuk pada peringkat ke-91 dengan skor 61,52 atau naik 18 peringkat dari survei Doing Business 2016 yang ada di level 109. Peringkat Indonesia tersebut tercatat masih jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga Singapura yang ada di peringkat dua dunia dengan skor 85,05.
 Â
Selain itu, Indonesia tercatat kalah dibandingkan negara ASEAN lainnya seperti Malaysia di peringkat 23, Thailand 46, Brunei Darussalam 72, dan Vietnam di peringkat 82. Indonesia tercatat hanya unggul dari Filipina di peringkat 99, Myanmar 170, dan Timor Leste 175.
Bank Dunia menyatakan, dalam survei Doing Business 2017 per 1 Juni 2016, telah menggunakan beberapa indikator dalam analisisnya. Salah satunya adalah bagaimana reformasi regulasi bisnis di setiap negara diterapkan, apakah telah bekerja, sektornya apa saja, dan mengapa hal itu diterapkan. Â
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa pengusaha di 137 negara melihat adanya perbaikan kerangka regulasi di negara mereka antara Juni 2015 hingga Juni 2016. Reformasi yang dimaksud antara lain, mengurangi kompleksitas perizinan dan biaya untuk memulai bisnis.Â
Untuk Indonesia, Bank Dunia mencatat ada tujuh indikator dari 10 indikator utama dalam reformasi regulasi bisnis yang mengalami kenaikan, yaitu memulai bisnis dengan skor 151, mendapatkan listrik 49, mendaftarkan properti 118, mendapatkan kredit 62, pembayaran pajak 104, perdagangan lintas batas 108, dan menegakkan kontrak dengan skor 166.
"Ada 10 negara yang tercatat mengalami perbaikan dalam reformasi regulasi bisnis, rata-rata negara tersebut memperbaiki tiga hingga tujuh indikator utama pada sektor perizinan investasi," tulis Bank Dunia dalam survei tersebut.
Menanggapi naiknya peringkat Indonesia tersebut, Presiden Jokowi mengaku belum puas terhadap raihan yang dicapai saat ini. Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, kepada media usai rapat terbatas di Kantor Presiden, Rabu 26 Oktober 2016.
Menurut dia, Presiden belum akan puas hingga peringkat Indonesia sesuai dengan target yang diinginkan yaitu masuk dalam peringkat 40 besar dunia. Untuk itu,, Presiden minta kepada Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, untuk terus melakukan beberapa perbaikan.