Lapang Dada

Ilustrasi
Sumber :
  • U-Report

Setelah lama duduk dan merenung, saya memutuskan keluar bersepeda untuk sekadar cari angin. Sudah lama saya tidak bersepeda, apalagi sejak sibuk mengurus usaha. Waktu saya kebanyakan habis buat mengurus produksi dan bertemu buyer. Awalnya, saya berencana hanya mau putar-putar saja, tapi entah kenapa saya jadi kepikiran buat bersepeda sampai ke Puncak Bintang.

img_title Pergilah Dinda Cintaku

Puncak Bintang adalah salah satu tempat wisata yang lagi beken di Bandung. Letaknya cukup dekat dengan rumah saya. Kalau kalian pernah ke Bukit Moko, Bandung, pasti tahu Puncak Bintang. Satu tahun lalu, saya pernah mencapai Puncak Bintang dengan bersepeda. Rasanya? Campur-campur. Ada perasaan puas, senang, tapi diiringi dengan sakit di pinggang dan selangkangan saya hampir mati rasanya. Saat pulang sih gampang, karena jalanannya turun. Tapi saat giliran naik itu yang menggila karena jalur yang menanjak. Saya tidak tahu deh kalau sekarang masih kuat atau tidak bersepeda ke sana. Apalagi belakangan ini saya semakin jarang bersepeda gara-gara mengurus usaha.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di tengah perasaan kecewa karena rumah lama saya yang sudah ditempati orang, saya pun mulai mengayuh sepeda. Di telinga saya menempel headset iPod buat menemani saya di perjalanan ini. Setengah perjalanan berhasil saya lewati karena treknya memang datar. Dan cobaan baru datang ketika sudah melewati Caringin Tilu (Cartil) karena jalanan sudah mulai menanjak.

img_title Tanggung Jawab dan Rekonsiliasi Masyarakat Lumban Dolok

Saya menghela nafas panjang dan mulai mengayuh sepeda. Awalnya saya masih kuat, tapi di tengah perjalanan, kaki, pinggang, dan nafas saya sudah mulai habis. Saya bukan perokok atau peminum alkohol dan selalu tidur cukup, tapi ternyata hal itu tidak membuat rute menanjak ini menjadi mudah. Ini rasanya seperti saat saya menjalani proses move on. Berat dan sulit rasanya untuk benar-benar bisa move on.

Banyak hal yang harus dilewati. Entah itu ada perasaan kecewa, sakit hati, tidak terima, atau apalah. Tapi bagaimana caranya kamu harus tetap bisa melanjutkan hidup kamu sambil membawa semua perasaan tidak enak itu. Berat? Pastinya. Saya jadi mengerti kenapa banyak orang yang bertindak nekat setelah mengalami putus cinta. Bagaimana rasanya ketika hati dan perasaan kamu sedang sedih, dan kamu merasa kecewa berat, tapi kamu tidak bisa menyalurkan emosi kamu itu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Jokowi Diminta Lerai Konflik Ketua Pramuka dengan Menpora
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut