Difteri Tidak Pernah Hilang di Indonesia
- VIVA/Muhamad Solihin
Bagaimana langkah yang harus diambil bagi daerah yang tidak masuk dalam KLB?
Ini harus menjadi pembelajaran yang menarik, daerah yang tidak kena harus membuat sistem pendataan imunisasi yang baik. Saya kira dengan otonomi daerah ini daerah-daerah kabupaten/kota bisa membuat sistem yang baik dalam pendataan imunisasi di daerahnya, agar penyakit difteri yang terdapat di kabupaten/kota yang lain tidak masuk ke kabupaten/kota yang belum masuk. Jadi itu yang harus dilakukan, sehingga mereka mempunyai suatu pertahanan terhadap penyakit itu, agar yang tadinya daerah tertular menjadi daerah yang tidak tertular.
Sejauh ini apa saja kendala yang dihadapi dalam menangani difteri ini?
Kalau kendala-kendala yang ada sih sebenarnya, bagaimana kita memobilisasi sumber daya. Karena yang dinamakan KLB itu adalah sesuatu event yang unpredictable. Kenapa saya katakan demikian, perencanaan kita kalau bicara logistik, kita itu sebenarnya satu tahun ini sudah ada. Sasaran imunisasi kita dalam satu tahun itu kalau sampai kelas 3 SD itu sekitar 48 sampai 50 juta dosis yang kita siapkan.
Situasi saat ini kita harus menghitung kembali, mempersiapkan kegiatan ekstra tanpa menghilangkan sesuatu yang rutin (persiapan tahunan) itu. Contoh, kita melakukan ORI di 12 Kabupaten/kota di tiga provinsi pada pertengahan Desember 2017 lalu, kita mempunyai sasaran 7,9 juta antara anak di bawah 1-2 tahun sampai untuk usia 19 tahun, itu 7,9 juta. Nah, sebenarnya ini alokasi vaksinnya kan tidak tersedia. Nah ini bagaimana kita mengumpulkan sisa-sisa vaksin yang belum terpakai dengan menghitung kembali sisa-sisa anggaran yang kita punya, alhamdulillah kita hitung-hitung sampai akhir Desember ini kita bisa atasi, tidak ada masalah.
Lalu yang kedua, karena kejadiannya akhir tahun, tentu kita berhadapan dengan dana operasional. Nah, dana operasional ini akhirnya kita sharing dengan pemerintah daerah, pemerintah pusat itu urusannya (menyiapkan) vaksin, hal-hal yang sifatnya bahan, dsb. Tentu daerah-daerah juga mempunyai kendala, karena ini kondisinya akhir tahun, tapi kita dorong semua, karena ini keadaannya darurat.
Ketiga, masalah sosialisasi kepada masyarakat. Ini terus menerus kita lakukan. Tetapi saya katakan kepada masyarakat sejak awal, bahwa imunisasi ini sangat penting, bahwa difteri adalah PD3I, penyakit yang hanya dapat dicegah dengan imunisasi. Dan penyakit ini kalau tidak dicegah, mematikan. Jadi ganas sekali kalau dibiarkan. Bahkan dia tidak mengenal usia, bukan hanya menyerang balita saja, usia dewasa pun bisa terkena penyakit ini. Dia tidak mengenal usia, tidak mengenal musim, status ekonomi, tidak mengenal area, tidak mengenal kota, semua bisa kena semua, dia sangat ganas.