Difteri Tidak Pernah Hilang di Indonesia
- VIVA/Muhamad Solihin
Begitu dia dinyatakan terduga difteri, maka dimasukkan ke dalam catatan namanya W1 atau formulir KLB. Begitu tahapannya. Jadi begitu, KLB bukan sesuatu yang istimewa sebenarnya, tapi early warning system atau peringatan dini, agar benar-benar dapat dipahami oleh masyarakat, dan pemerintah daerah bisa bergerak cepat, sehingga masyarakat sebenarnya enggak perlu khawatir dengan KLB ini. Dia tahu bagaimana cara penularannya, maka dia harus pakai masker kemana-mana, higienis, sanitasi harus terus dijaga.
Nah, beberapa kendala yang saya sebutkan tadi, terus kita perbaiki. Baik dalam hal teknis pelayanan maupun dalam hal administratifnya. Administratif itu seperti masalah-masalah kewenangan, masalah-masalah peraturan, masalah keuangan. Kalau masalah teknisnya itu seperti bagaimana kita melakukan pelayanan, bagaimana kita melakukan penyelidikan epidemology, bagaimana mengadakan sarana prasarana, dll.. dan dua hal ini yang terus menerus kami pantau. Jadi kami terus bekerja 24 jam.
Sebenarnya apa yang menyebabkan difteri ini?
KLB Difteri ini sebenarnya kan penyakit yang sudah lama, dan dalam catatan kami, kejadian luar biasa difteri paling besar di Indonesia itu terjadi pada tahun 1990, itu kurang lebih ada 2000 penderita. Kemudian, dari tahun 1990 sampai tahun 2017, difteri sebenarnya tidak pernah hilang di Indonesia. Makanya selalu endemis, selalu muncul setiap tahun.
Pada tahun 2012, di Jawa Timur, khususnya di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur itu terjadi lagi KLB difteri yang juga besar, itu hampir 1200 penderita. Kemudian menurun lagi. Barulah terjadi besar lagi tahun 2017 ini dengan jumlah penderita 772 penderita. Itu artinya sebenarnya di tahun 2017 ini masih tergolong kecil jika dibandingkan di tahun 2012 dan 1990. Dan itu artinya, sebenarnya semua daerah sudah punya pengalaman untuk mengatasi difteri ini, semua sudah pegang protap, logistik sudah disiapkan oleh pusat untuk daerah. Nah, masalahnya? Kenapa bisa muncul lagi?
Pertama, imunisasi tidak lengkap. Kedua, masih ada masyarakat yang tidak diimunisasi dengan berbagai macam sebab. Sebab penolakan karena agama, sebab penolakan karena ketidaktahuan, sebab penolakan karena gagal paham, dsb... makanya dengan berbagai sebab ini kita perlu benahi bersama, imunisasi rutinnya harus diperkuat.