Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, M Subuh

Difteri Tidak Pernah Hilang di Indonesia

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dr. Mohamad Subuh
Sumber :
  • VIVA/Muhamad Solihin

Siapa yang harus memperkuat imunisasi rutin? Pemerintah Daerah, terutama dinas kesehatan di provinsi, Kabupaten/Kota. Kita dari pemerintah pusat melakukan teknikal asisten. Asistensi teknis penyiapan logistik dan juga penyiapan materi-materi yang ada. Karena yang melakukan operasional adalah teman-teman di provinsi, kabupaten/kota. Ini yang harus terus menerus dilakukan. Nah, jadi ini terjadi karena masih banyaknya masyarakat yang tidak imunisasi. Akibatnya terjadi imunisasi gap.

img_title Irjen Ferdy Sambo: Polisi Nakal Ngapain Dibela, Pecat!

Kalau kita mau terlindungi dengan baik, masyarakat kita itu minimal 90 persen harus terimunisasi. Artinya, yang 10 persen yang tidak imunisasi ini, dapat tertolong oleh 90 persen yang sudah diimunisasi. Apabila yang diimunisasi hanya 80 persen, 70 persen akhirnya terjadi yang istilahnya backlock. Backlock ini adalah orang-orang yang tidak diimunisasi, terus tertinggal, dan semakin lama jumlahnya semakin besar, nah inilah yang dapat menyebabkan penyakit ini dapat berkembang dengan cepat. Ini masalah buat kita.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berapa data imunisasi gap terakhir Pak?

img_title Irjen Ferdy Sambo: Jangan Viralkan Polisi Nakal, Lapor Propam Saja

Begini, sebenarnya secara nasional rata-rata masyarakat Indonesia yang sudah diimunisasi dasar itu ada 90 persen. Tetapi sesungguhnya disparitasnya masih besar. Kenapa saya sebut terjadi disparitas, di tingkat kabupaten, tingkat kecamatan, dan tingkat desa. Bisa di tingkat kabupaten mendapatkan imunisasi 90 persen, tetapi itu berada di ibu-ibu kota kecamatan saja misalnya. Karena jumlah penduduknya banyak, akhirnya kalau dibagi jumlah sasaran dia besar dapatnya, tapi kalau dibagi di tingkat kecamatan atau desa, dia tidak 90 persen. Ada yang 80 persen, ada yang 70 persen saja di tingkat desa, jadi tidak merata 90 persen.

Apa masalahnya Pak? Kenapa bisa seperti itu?

img_title Gus Yahya: NU Bukan Batu Loncatan Nyapres

Ya itu tadi masalahnya, mungkin karena aksesnya sehingga belum dapat dia. Kedua, mungkin tidak paham, ketiga mungkin penolakan karena paham-paham tertentu, keempat karena ketakutan. Jadi banyak faktor kenapa banyak yang tidak melakukan imunisasi. Makanya saya sampaikan, pendekatan persuasif ini yang harus dilakukan. Kita tidak bisa melakukan pendekatan secara frontal kepada masyarakat, tapi harus melakukan pendekatan secara perlahan-lahan, memberikan pengetahuan, melakukan pendekatan melalui para tokoh-tokoh, seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, dsb, termasuk melakukan pendekatan secara individu maupun secara kelompok, ini yang harus terus kita lakukan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut