Waduh! Data 7,9 Juta Pengemudi Australia Dibobol

Ilustrasi hacker.
Sumber :
  • Pixabay

VIVA Dunia – Perusahaan pembayaran dan pinjaman digital Australia, Latitude Holdings, pada Senin, 27 Maret 2023, menyatakan bahwa 7,9 juta nomor identitas mengemudi warga Australia dan Selandia Baru telah dicuri dalam kasus pembobolan informasi besar-besaran yang terjadi pada 16 Maret.

img_title Terkuak! Sejak 2020 Main di Dark Web Tapi Susah Ditangkap, Ini Jurus Bjorka 'Gocek' Polisi

Perusahaan fintech Australia itu juga mengungkapkan sekitar 53.000 nomor paspor tercuri dalam pembobolan data ini. Tak hanya itu, juga ikut dibobol struk gaji milik sekitar 100 pelanggan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, sekitar 6,1 juta catatan keuangan sejak 2005 juga tercuri, kata perusahaan fintech yang berbasis di Melbourne itu, sembari menambahkan bahwa pelanggan-pelanggan yang memilih mengganti dokumen identitasnya yang tercuri, akan mendapatkan penggantian.

img_title Analis Lihat Dampak Shutdown AS Kali Ini Beda, Bursa Wall Street Bergejolak

Hacker mengambil data pribadi korban.

Photo :
  • TechCrunch

"Kami tengah memperbaiki platform-platform yang terbobol serangan itu dan sudah menerapkan pemantauan keamanan tambahan serta berharap bisa kembali beroperasi dalam beberapa hari ke depan," kata Chief Executive Officer Ahmed Fahour.

img_title Bertemu Prabowo, Marc Marquez: Saya Senang Sekali Kembali ke Indonesia

Saham Latitude anjlok 2,5 persen menjadi 1,18 dolar Australia per lembar. Harga saham perusahaan ini sudah terpangkas 2,1 persen sejak mereka melaporkan kejadian tersebut pada 16 Maret.

"Setiap kali investor mendengar "pembobolan data", mereka cenderung menganggapnya buruk sekali...tampaknya kebanyakan pesimisme ini sudah diperkirakan dua pekan lalu ketika kabar mengenai serangan siber ini pertama kali tersiar," kata Matt Simpson, analis pasar pada City Index.

Level harga saat ini tidak mendorong sentimen beli yang yang kuat, tetapi "investor jelas melihat 1 dolar Australia sebagai level harga yang layak," kata Simpson.

Perusahaan yang menyediakan layanan pembiayaan konsumen untuk dua pengecer besar Australia Harvey Norman dan JB Hi-Fi, pekan lalu sudah mewanti-wanti bahwa mereka telah menemukan bukti lebih jauh mengenai adanya pencurian informasi. Beberapa perusahaan Australia mengaku menjadi sasaran serangan siber dalam beberapa bulan terakhir.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut para pakar, keadaan in disebabkan oleh kurangnya staf dalam industri keamanan siber di negara tersebut. Tahun lalu, sejumlah perusahaan besar Australia melaporkan pembobolan data yang lalu mendorong pihak berwenang meningkatkan upaya memperkuat keamanan siber dan menerapkan aturan berbagi data yang lebih ketat guna mencegah pelanggaran serupa terjadi lagi nanti.

Awal bulan ini, Latitude terpaksa mematikan platform online-nya. Perusahaan ini menjelaskan bahwa Polisi Federal Australia dan Pusat Keamanan Siber Australia sedang menyelidiki kasus serangan itu. (Ant/Antara)

Pemilik akun X Bjorka ditangkap Polda Metro Jaya

Bjorka Jual 4,9 Juta Nasabah Bank di Dark Web Seharga Puluhan Juta, Transaksi Pakai Kripto

Pemuda yang mengaku sebagai 'Bjorka' mengklaim berhasil membobol 4,9 juta data nasabah bank menjualnya lewat dark web dengan harga selangit.

img_title
VIVA.co.id
2 Oktober 2025
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut