Kujungan Pertama Kali ke Arab, Presiden Sementara Suriah Bertemu MBS
- harmoon.org
Riyadh, VIVA – Presiden sementara Suriah, Ahmed al-Sharaa bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS). Ini merupakan kunjungan pertama Sharaa ke Kerajaan setelah menjabat sebagai presiden.
Sharaa mengatakan bahwa Arab Saudi memiliki "keinginan tulus" untuk mendukung negaranya yang dilanda perang, setelah bertemu pada Minggu, 2 Februari 2025, dengan Putra Mahkota Kerajaan.
Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman.
- Istimewa
Didampingi oleh menteri luar negerinya, Asaad al-Shaibani, Sharaa disambut oleh pejabat Saudi saat tiba di Riyadh.
"Kami mengadakan pertemuan panjang di mana kami merasakan dan mendengar keinginan tulus untuk mendukung Suriah dalam membangun masa depannya," kata Sharaa, dikutip dari Alarabiya, Senin 3 Februari 2025.
Sementara itu, Kantor Berita Resmi Saudi mengatakan bahwa MBS dan Sharaa membahas cara-cara untuk mendukung keamanan dan stabilitas Suriah yang bersahabat, serta cara-cara untuk memperkuat hubungan bilateral.
Sharaa, yang kelompoknya memimpin penggulingan Bashar al-Assad pada bulan Desember, diangkat sebagai presiden sementara Suriah pada minggu lalu.
Raja Salman dan MBS termasuk di antara orang-orang pertama yang memberi selamat kepadanya atas pengangkatan resminya.
Diketahui, pemerintah Suriah mengandalkan negara-negara Teluk untuk membiayai pembangunan kembali negara mereka yang dilanda perang dan memulihkan ekonominya.
Pada akhir Desember, Sharaa mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa Saudi tentu akan memainkan peran penting di masa depan Suriah, yang menyoroti peluang besar untuk investasi.
Dia juga mengatakan bahwa dia lahir di Arab Saudi, tempat ayahnya bekerja, dan telah menghabiskan tujuh tahun pertama hidupnya di negara Teluk tersebut.
Ahmad Al Sharaa, Presiden sementara Suriah
- AP
Sebagai informasi, Suriah mendesak pencabutan sanksi internasional yang telah menyeret ekonominya.
Sanksi tersebut berlaku sejak tahun 1979, ketika Amerika Serikat melabeli Suriah sebagai negara sponsor terorisme, tetapi sanksi tersebut ditingkatkan secara signifikan oleh Washington dan negara-negara Barat lainnya ketika al-Assad menindak tegas protes antipemerintah pada tahun 2011 dan memicu perang saudara.