Pertemuan G20, CBDC Kemungkinan Jadi Mata Uang Digital

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo di Washington D.C.
Sumber :
  • ANTARA/Satyagraha

VIVA Bisnis – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebutkan, Presidensi G20 Indonesia terus mengeksplorasi mata uang digital bank sentral atau Central Bank Digital Currencies (CBDC) sebagai sistem pembayaran lintas batas.

img_title Deputi Gubernur BI Juda Agung Resmi Dilantik Jadi Anggota Dewan Komisioner OJK Ex-Officio

Hal itu disampaikan Perry usai melakukan pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (FMCBG) ke-4 di Washington DC, Amerika Serikat (AS).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"G20 menyambut paparan berkelanjutan tentang bagaimana mata uang digital bank sentral berpotensi dirancang untuk memfasilitasi sistem pembayaran lintas batas," ujar Perry dalam konferensi pers melalui Youtube Bank Indonesia, Jumat 14 Oktober 2022.

img_title Rupiah Melemah Usai BI Rate Dipangkas Demi Pacu Kredit Perbankan

Baca juga: Harga Emas Hari Ini 14 Oktober 2022: Global dan Antam Amblas

Adapun komitmen itu dilakukan agar pembayaran lintas batas atau negara lebih cepat, murah, transparan, dan inklusif. Sebab akan memberikan manfaat yang luas bagi ekonomi di seluruh dunia.

img_title Pertumbuhan QRIS Tembus 145 Persen, Bukti Warga RI Makin Doyan Cashless 

Perry menjelaskan, sebagai wujud implementasi regional dari Peta Jalan G20 pada Pembayaran Lintas Batas Negara, bank sentral ASEAN-5 akan menandatangani Perjanjian Umum pada Konektivitas Pembayaran di sela-sela KTT Leaders’ Summit pada November 2022 mendatang.

"Sistem pembayaran lima lintas batas ASEAN pada konektivitas sebagai implementasi operasional dari peta jalan G20 untuk meningkatkan peta jalan pembayaran lintas batas," ujarnya.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.

Photo :
  • VIVA/Mohammad Yudha Prasetya

Selain itu, selama pandemi lembaga keuangan telah menerapkan berbagai kebijakan luar biasa untuk meningkatkan fungsinya sebagai intermediasi dalam mendukung perekonomian. Di saat dukungan kebijakan diperlukan untuk memitigasi dampak negatif dari pandemi, penerapan dukungan kebijakan yang terlalu lama dapat menimbulkan risiko terhadap stabilitas keuangan.

Di saat pemulihan pandemi yang sedang berlangsung, G20 menantikan laporan akhir exit strategies dan mitigasi scarring effect pada sektor keuangan, itu sebagai upaya untuk mengatasi kerentanan di Lembaga Keuangan Non-Bank (NBFI).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, G20 terus memperkuat sektor keuangan global melalui peningkatan pemantauan risiko dan melalui optimalisasi manfaat teknologi dan digitalisasi. Dalam konteks ini, G20 menyambut baik penilaian FSB mengenai pengawasan dan regulasi “stablecoin” global, serta aktivitas pasar asset kripto.

Gedung Bank Indonesia (BI).

BI Tegaskan Surplus Neraca Dagang RI Agustus 2025 Topang Ketahanan Eksternal

Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2025 mencatat surplus sebesar US$5,49 miliar.

img_title
VIVA.co.id
2 Oktober 2025
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut