6 Tren Digital di Industri Migas
- VIVA/Dusep Malik
Jakarta, VIVA – Industri minyak dan gas (migas) selalu berupaya berinovasi dan mengadopsi teknologi baru demi meningkatkan keselamatan dan efisiensi.
Sebuah studi terbaru oleh VDC Research menunjukkan bahwa hampir dua pertiga organisasi industri mengantisipasi pencapaian tahap "digital penuh" — yang ditandai dengan peningkatan kapabilitas digital yang proaktif dan berkelanjutan—dalam dua tahun ke depan.
Namun, terlepas dari peningkatan efisiensi operasional yang tak terbantahkan, digitalisasi juga memiliki efek samping yang tidak diinginkan, yaitu membuka vektor ancaman dan membahayakan keselamatan kilang itu sendiri.
Sederhananya, mustahil meningkatkan konektivitas tanpa membuka potensi ancaman siber yang lebih besar.
Kaspersky melakukan riset internal dan serangkaian wawancara dengan para profesional terkemuka di industri migas untuk mengidentifikasi tren digital utama yang membentuk masa depan sektor ini.
Mulai dari konvergensi TI/OT hingga robotisasi dan 5G, tren-tren inti ini menggarisbawahi lanskap dinamis yang mendorong pertumbuhan, ketahanan, dan inovasi dalam sektor minyak dan gas saat ini.
Jadi, apa saja 6 tren digital utama ini?
IIoT dan Cloud Computing (Komputasi Awan)
Industrial Internet of Things (IIoT) merevolusi operasi minyak dan gas dengan memungkinkan pemantauan jarak jauh secara real-time terhadap pengeboran, jaringan pipa, dan kondisi lingkungan.
Sensor-sensor ini membantu meningkatkan keselamatan, memprediksi kegagalan, dan mengoptimalkan kinerja melalui wawasan berbasis data. Komputasi awan melengkapi kemampuan ini dengan menawarkan analitik yang skalabel untuk pemantauan kilang, logistik, dan prediksi permintaan.
Namun demikian, ketergantungan pada platform cloud meningkatkan kerentanan terhadap serangan siber. Seperti yang diprediksi Moody's, sekitar 14 persen industri akan memanfaatkan layanan cloud publik, yang secara signifikan memperluas permukaan serangan.
Musuh siber dapat mengeksploitasi kerentanan dalam infrastruktur cloud, yang menyebabkan potensi pelanggaran data, gangguan operasional, atau bahkan kerusakan fisik.
AI, ML, dan Hiper-otomatisasi
Kecerdasan Buatan (AI) dan Pembelajaran Mesin (ML) mendukung inisiatif hiper-otomatisasi yang mengoptimalkan pemeliharaan, konsumsi energi, dan alur kerja operasional.
Teknologi ini memungkinkan analitik prediktif, mengurangi waktu henti, dan meningkatkan efisiensi biaya. Namun, meningkatnya ketergantungan pada sistem berbasis AI membuat industri rentan terhadap ancaman siber canggih seperti keracunan data, manipulasi model, atau malware yang menargetkan proses pengambilan keputusan otonom.