Indonesia Berada di Persimpangan

Managing Director HPE Indonesia, Meygin Agustina.
Sumber :
  • VIVA/Lazuardhi Utama

Jakarta, VIVA – Dalam dunia yang semakin terkoneksi seperti sekarang, tantangan terhadap sistem teknologi informasi kian kompleks.

img_title Kemendag Ungkap Biang Kerok Naiknya HPE Konsentrat Tembaga

Ancaman siber meningkat, kebutuhan daya komputasi melonjak, dan efisiensi operasional menjadi prioritas organisasi kecil maupun besar. Khususnya Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di tengah tren dan perkembangan teknologi yang kian dinamis, pelaku industri Tanah Air masih memiliki tantangan serius untuk mengadopsi teknologi terkini, seperti teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), genAI, agentic AI, hingga cloud computing.

img_title Harga Patokan Ekspor Konsentrat Tembaga Turun, Kemendag Ungkap Faktornya

Meski begitu, masih ada sejumlah hambatan.

Pelaku industri di Indonesia disinyalir masih menganut pola pikir konvensional (fixed mindset), di mana mereka masih mempertahankan solusi terknologi sebelumnya, alih-alih mengadopsi yang teknologi yang lebih canggih.

img_title Kemendag: Rata-Rata HPE Konsentrat Tembaga Turun Tipis di Periode II Juli 2025

Hal ini terjadi lantaran minimnya talenta digital serta masih terbatasnya ketersediaan ekosistem digital.

VIVA Digital bersama sejumlah media berkesempatan bincang-bincang dengan Managing Director Hewlett Packard Enterprise atau HPE Indonesia, Meygin Agustina.

Lantas, apa pandangannya soal hambatan yang melanda pelaku industri Tanah Air?

"Different countries, different challenges. Kalau di Indonesia, kami sudah keliling ke semua pelanggan di segala macam segmen. They want to know what to do. Karena mereka masih konvensional (pola pikirnya). Masih nyaman dengan solusi sebelumnya," kata dia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ketika pelaku industri hendak bergerak ke teknologi yang lebih maju, seperti genAI maupun agentic AI, terkendala dua hal, yaitu kesiapan talenta digital dan keterbatasan ekosistem digital.

"Karena itu (talenta digital) enggak cuma sebagai user tapi create untuk develop. Itu biggest challenge. Lalu, ekosistem digital yang belum terbentuk. Indonesia disebut masih berada pada level medium. Sebaliknya, negara-negara seperti Singapura contohnya sudah maju pada level advance, bahkan tahap developer seperti Amerika Serikat (AS)," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Oleh karena itu, Meygin Agustina mendorong dilakukannya kolaborasi. Sebab, lanjut perempuan cantik ini, inovasi tanpa kolaborasi it's sitting nowhere. "Jadi kuncinya di situ (kolaborasi)," papar dia.

Bukan itu saja. Di tengah meningkatnya risiko keamanan teknologi dan informasi (TI), secara global, kerugian akibat serangan siber ditaksir mencapai Rp10,5 triliun, termasuk serangan ransomware yang menyasar infrastruktur digital dan rantai pasok perusahaan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut