- Dok. Peneliti LIPI
Laksana mengaku tak paham, mengapa tiba-tiba jadi ada kisruh. Ia mengatakan, mereka yang komplain tak pernah menyampaikan secara personal. Menurut dia, jumlah mereka yang menolak reorganisasi tidak banyak, tetapi vokal dan nyaring. Ia mengklaim, mereka yang silent majority dan mendukung keputusannya, jumlahnya jauh lebih banyak.
![]()
Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko
Laksana membantah soal kabar pemusnahan buku. Menurut dia, itu adalah salah satu isu yang digoreng. "Jadi, sudah diklarifikasi juga, bahwa itu tidak benar. Penjagaan koleksi pusaka itu kan sesuatu yang sangat penting dilakukan, hanya itu saja. Dan yang disiangi (weeding) itu pasti yang sudah memenuhi standar. Kan sudah ada indikatornya, apakah rusak, tidak relevan.
Melalui akun Twitternya LIPI menjelaskan soal puluhan ribu yang dibuang tersebut. LIPI mengatakan, mekanisme weeding adalah proses normal di dunia perpustakaan dunia untuk memeriksa koleksi, judul per judul untuk penarikan permanen terutama dokumen yang secara fisik sudah rusak parah. Adapun kriteria dalam proses penyiangan yang dilakukan LIPI atas koleksi dokumen ilmiah yakni umur dan fisik koleksi, keefektifan dan efisiensi pemanfaatan ruang perpustakaan, pemanfaatan koleksi tercetak, dan relevansi substansi koleksi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
“PDDI LIPI melakukan digitalisasi aset-aset tersebut agar tetap awet serta lebih mudah diakses masyarakat tanpa harus datang langsung ke PDDI LIPI," ujar LIPI dalam keterangan di akun Twitter-nya, Selasa 12 Maret 2019.
Sebelum dilakukan digitalisasi atau penyiangan, PDDI LIPI memastikan tesis dan disertasi aslinya masih tersimpan di perguruan tinggi asal.
Laksana menyayangkan isu yang berkembang saat ini. Menurutnya saat ini, semua bisa dijadikan isu. Ia juga mengendus kasus ini sudah mengarah ke politik. Dan, menurutnya, hal tersebut tidak pada tempatnya terjadi di LIPI.
Sikap Laksana yang tetap teguh dengan keputusannya disesalkan oleh Prof Yan Sopaheluwakan. Ia mengatakan, Laksana sebagai seorang yang otoriter. "Begini lho, dari dulu kan kita tidak pernah ada masalah, karena pimpinan itu harusnya bersifat mengayomi. Sekarang LIPI dipegang oleh orang yang otoriter. Dia merasa bahwa kebijakan dialah yang paling benar dengan menegasikan teman-teman deputi yang lainnya, tanpa berkomunikasi dengan deputi-deputi yang lain, jadi dia memang selalu sendiri saja. Jadi sumber masalah LIPI itu adalah dia pribadi, Kepala LIPI yang sekarang ini. Orang dari dulu enggak pernah ada masalah kok,” ujarnya.