- ANTARA FOTO/Didik Suhartono
Dokter Adrian Ginting, dokter spesialis yang praktik di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta menyesalkan bayakya petugas yang gugur selama mengawal Pemilu. Tapi sebagai dokter ia memiliki sudut pandang yang berbeda. Adrian Ginting meyakini korban meninggal dunia sudah berusia di atas 40 tahun, dan sudah memiliki penyakit yang ia derita, namun tidak ia rasakan.
"Mungkin dia punya penyakit gula, mungkin jantung koroner, cuma tidak tercetus begitu. Ditambah ada stres, capek, sehingga muncul (penyakit) itu, kemudian langsung menyebabkan dia meninggal dunia kan. Jadi pasti dia sudah ada penyakit sebelumnya," tuturnya kepada VIVA.
Menurut Adrian, petugas Polri dan TNI melakukan kerja berat dan penuh tekanan, tapi mereka sudah melalui penggemblengan selama bertahun-tahun. Berbeda dengan petugas PPS saat ini. "Mereka kebanyakan direkrut karena kenal. Tak tahu bagaimana kondisi kesehatannya. Bayangkan petugas KPPS itu harus bekerja seharian, istirahat hanya dua sampai tiga jam sehari, kerjanya seperti digembleng gitu kan. Tapi mereka tidak dipersiapkan, itu masalahnya," ujarnya.
Sementara Labor Institute Indonesia atau Institut Kebijakan Alternatif Perburuhan Indonesia berpendapat gugurnya petugas KPPS dalam istilah Ketenagakerjaan disebut 'Fatigue Kill' atau meninggal akibat kelelahan bekerja.
"Menurut penelitian, pekerja yang mengalami fatigue mengalami berbagai gangguan emosi dan masalah kesehatan serius," tulis Sekretaris Eksekutif Labor Institute Indonesia, Andy William Sinaga.
Psikolog Sani Budiantini menyebut Fatigue Kill adalah keadaan di mana kelelahan bisa membuat sistem tubuh berubah dan kacau. Bahkan, memicu penyakit hingga kematian yang disebabkan menurunnya asupan oksigen ke otak.
Padahal, sejatinya tubuh memiliki sinyal saat rasa lelah mulai melanda. Namun, pada kasus ini, diakui Sani, membuat sinyal tersebut tak dikenali pemiliknya.
"Untuk kasus luar biasa ini, karena memang disertai target yang harus cepat dan teliti serta komitmen tinggi, membuat alarm di badan tidak menyala," ujar Sani kepada VIVA.
Fatigue Kill tak hanya dipicu kelelahan fisik semata, namun juga kelelahan mental secara bersamaan. Dari sisi mental, para pekerja KPPS juga diketahui merasa tertekan dan takut akan stigma masyarakat soal kecurangan. Karenanya beberapa petugas KPPS melakukan penghitungan suara hingga berulang-ulang. Di lain sisi tidak ada waktu untuk mengungkapkan rasa 'lelah' yang dialami.