- VivaNews/ Nurcholis Anhari Lubis
Satria yakin bisnis ritel tak akan padam. Ritel akan terus berkembang sejauh bisa membaca pasar dan mengetahui keinginan konsumen. Dan kemampuan itu lah yang akan membuat bisnis ritel terus menggeliat dan pelakunya harus terus melakukan inovasi.Â
Meski kini head to head dengan bisnis ritel yang mulai merambah online, Carrefour memilih berinovasi agar konsumen tetap loyal dan setia mendatangi gerai mereka. Salah satu hal yang dilakukan adalah memberikan promo menarik di setiap akhir pekan.Â
Selain itu, menciptakan produk eksklusif atau produk tertentu yang hanya bisa diperoleh di toko mereka, hingga mengadakan berbagai kegiatan yang melibatkan pemangku kepentingan alias stakeholder dan masyarakat di sekitar lokasi toko.
Tak hanya itu, Carrefour melibatkan PT Bank Mega Tbk sebagai bagian kerja sama. Ada diskon khusus yang diberikan bagi nasabah bank yang masih berada dalam jaringan Trans Corporation.Â
Sementara itu, bagi Hypermart, kencangnya bisnis online yang makin meluas sebenarnya belum memberikan dampak langsung. Hingga saat ini, menurut Fernando, penjualan offline masih memberikan pengaruh besar. Bahkan dampaknya masih 99 persen.Â
Meski tren ritel online belum kuat, tapi Hypermart tetap mengantisipasi. Sejumlah cara dan strategi mulai dilakukan.Â
Misalnya dengan pengurangan wilayah atau luas gerai. Pengurangan wilayah dan luas gerai dilakukan dengan harapan bisa mengurangi aspek biaya operasionalnya. Terutama biaya sewa tempat.Â
"Selain itu strategi berikutnya kita juga sudah mulai membuka jalur-jalur penjualan online, juga melalui social media, yang juga kita sudah mulai buka ke arah sana, salah satunya dengan mengaktifkan shop.hypermart.co.id," ujar Fernando.Â
![]()
Iklan Matahari Mall.com
Fernando juga fokus untuk mengembangkan big data dan costumer experience. Sebab, menurutnya, dalam beberapa tahun ke depan strategi itu sudah mutlak diimplementasikan. Namun, di balik itu semua, Hypermart tetap berpegang pada data bahwa penetrasi peritel modern di Indonesia masih sangat rendah, hanya sekitar 21-23 persen.Â
"Jauh lebih penting untuk kami meningkatkan penetrasi ritel modern yang masih rendah, dan terus meningkatkan penjualan. Itu sebabnya sejak 2013, Hypermart sudah masuk ke kota-kota kecil, kota-kota kedua atau kota kabupaten yang punya potensi," ujarnya.Â