- facebook.com/chikita.fawzi
“Itu sih tergantung pilihan masing-masing, ya. Mau bangun di Indonesia atau berkarier di luar. Kalau saran aku, jika sudah berkarier di luar negeri, sebelum balik, kumpulkan networking dulu dan pengalaman yang banyak," ujar Kiki kepada VIVA.co.id.
"Kalau memang benar-benar suka dunia animasi, konsisten saja. Karena animasi itu bukan hal yang mudah, apalagi merintis karier, pasti akan banyak rintangan. Tetap konsisten” tuturnya.
Menurut dia, sangat sulit membangun bisnis animasi di Indonesia. Selain masih dikuasai pemain besar, seperti MNC Animation dan MD Animation yang kebanyakan dibiayai oleh hasil produksi sinetron, sulit juga memasarkan produk animasi di Indonesia.
Utamanya karena bayaran untuk sebuah slot tayangan televisi sangat mahal, apalagi jika ingin membeli slot di prime time.
“Sekarang mulai ada Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), itu bagus. Kalau dulu didorong untuk mandiri. Ujung-ujungnya bukan salah pemerintah tapi dari kita harus belajar. Industri animasi harus bergerak serentak untuk support animasi, termasuk TV,” katanya.
Berbeda dengan Kiki, Chris Lie benar-benar menegaskan betapa pentingnya pendidikan konsep desain atau ilustrasi. Menurut Chris, sekolah ilustrasi bisa dibuat untuk mendukung pertumbuhan industri. Dosennya bisa diambil dari orang yang memang sudah eksis di industri, yang sayangnya, kata dia, kebanyakan saat ini sudah berkarier di luar negeri.
“Kalau enggak ada pendidikannya, enggak maju-maju. Cuma orang yang sekolah di luar negeri yang punya ilmunya,” ujar Chris.
Selanjutnya...Kembali ke Indonesia
Kembali ke Indonesia
Berkat pendidikan luar negeri itu pula, tidak salah jika konsep desainer Indonesia banyak yang memulai kariernya di sana. Bahkan, ada sebagian yang kembali, tidak sedikit juga yang memilih untuk tinggal di negeri orang.
Mengenai banyaknya konsep desainer yang bekerja di luar negeri, Kiki mengatakan jika lingkungan kerja di luar memang sangat menghargai hasil karya seseorang. Hal yang sama juga dikatakan Andre Surya.
“Nomor satu, mereka menghargai seni. Kami dipandang seperti dokter, walaupun baru masuk. Waktu di Lucas Film, kalau lembur dimanja, meskipun lembur jarang. Uang taksi dibayarin, bonus banyak, entertainment diberikan rutin,” kata Andre.