- VIVA.co.id/Nur Faishal
Ia pun ditetapkan sebagai tersangka penyalahgunaan narkoba oleh Kepolisian Resor Mataram pada Selasa, 30 Agustus 2016 atau dua hari usai penobatannya menjadi Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) untuk kedua kalinya.
Penangkapan itu pun membongkar sosok Aa Gatot dan padepokannya. Ternyata tak cuma narkoba, Gatot pun tersandung dugaan kepemilikan senjata api, penyimpanan satwa langka dan terakhir yang paling fenomenal adalah dugaan pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.
Setidaknya kini sudah ada delapan orang yang mengaku menjadi korban Gatot Brajamusti. Dan konon jumlah itu belum seluruhnya. Sebab dari pengakuan pelapor, ada puluhan anak bawah umur yang pernah menjadi korban pelecehan seksual Gatot.
Dan ironisnya, seluruh korban Gatot itu juga dicekoki Aspat atau sabu-sabu yang menjadi andalan Gatot untuk merayu para korbannya. "Sejauh ini ada delapan laporan yang masuk ke kita. Bahkan informasi aduan yang masuk itu ada puluhan, tetapi yang sudah terverifikasi ada delapan," kata Komisi Perlindungan Anak Indonesia Asrorun Ni'am.
Kejahatan Kultural
Menurut Sosiolog Universitas Indonesia, Ganda Upaya, kultur budaya orang Indonesia diakui memang masih kental dengan nilai agama dan budaya mistis. Hal ini yang kemudian menjadi awal mula masalah untuk kejahatan budaya kultural, salah satunya lewat kemunculan padepokan-padepokan penipu yang bertabir keagamaan dan kebudayaan.
Orang Indonesia, kata Ganda, akhirnya dengan mudahnya mempercayai apa yang dijual oleh kelompok yang berbau agama atau pun hal yang bersifat mistis dan di luar nalar.
Untuk itu, fenomena kepercayaan itu bisa ditemukan hampir di setiap sudut Indonesia. Beberapa pengikut melakukan secara sadar dan beberapa lain lantaran karena putus asa dan tidak memiliki pengetahuan keagamaan atau umum yang memadai. "Ketika mengalami kesulitan, orang ingin berubah dengan jalan pintas," kata Ganda, Jumat, 14 Oktober 2016.
Di Jawa Timur, munculnya padepokan bernama Dimas Kanjeng pimpinan Taat Pribadi. Menjadi bukti bahwa padepokan berkedok keagamaan begitu mudahnya masuk ke masyarakat.
Ribuan orang pun percaya kelompok yang disebut kerap menggelar pengajian dan sedekah bagi orang miskin ini akan bisa menuntaskan masalah mereka. Kepercayaan bahwa pimpinan padepokan Taat Pribadi memiliki karomah karena bisa menggandakan uang pun menjadi motif ribuan pengikut kelompok ini.