Fakta di Balik Kontroversi MSG 

Ilustrasi garam, MSG dan gula.
Sumber :
  • Pixabay/Stocksnap

Di dalam salah satu penelitiannya, Olney menggunakan bayi tikus yang baru lahir dan memberikan MSG secara oral dengan dosis sebesar 3gr/kg berat badan hewan percobaan. 

img_title Cara Membuat Soto Ayam Bening Rumahan Tanpa MSG, Tetap Gurih dan Enak!

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa MSG menimbulkan kerusakan otak. Olney juga melaporkan bahwa MSG merupakan pemicu untuk terjadinya obesitas, gangguan neuroendokrin, gangguan perilaku dan kerusakan otak pada janin tikus dari induk yang mengonsumsi MSG saat hamil.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun lagi-lagi penelitian itu harus melewati tahapan lebih lanjut karena belum sampai tahap uji klinis pada manusia.

img_title Meluruskan Persepsi Dan Menguak Rahasia MSG Melalui Demo Masak Bersama P2MI

Ahli gizi Prof. Hardinsyah, MS, PhD beranggapan serupa. Menurutnya Glutamat dalam mecin tidak mungkin bisa membuat bodoh. Menurutnya glutamat justru bisa mengaktivasi pesan antar neuron di otak. Ia juga menyebut bahwa apalagi dari segi keamanan MSG bisa dilihat dari bahan pembuatnya. Di beberapa negara, bahan pembuatan mecin berbeda.

"Di Amerika, MSG dibuat dari jagung. Di Indonesia, dibuat dari tetes air tebu, karbohidrat yang kemudian di-convert bakteri menjadi glutamat, lalu direaksikan dengan natrium menjadi butiran putih kristal," ujar Hardinsyah kepada VIVA dalam sebuah acara seminar beberapa waktu lalu.

img_title Cara Kurangi Risiko Terkena Hipertensi, Rumus Ini Bisa Dicoba!

Fakta lain ia sebutkan bahwa konsumsi mecin rata-rata penduduk dunia didominasi oleh China dan Taiwan dengan 1,8 persen, Jepang 1,4 persen, Amerika 0,8 persen, sementara Indonesia hanya 0,6 persen. Jika dilihat negara dengan konsumsi MSG tinggi, justru merupakan negara yang lebih maju dari Indonesia.

"Tidak berarti konsumsi mecin jadi cerdas. Tapi kalau dikaitkan, seharusnya (masyarakat) China lebih bodoh. Jadi, (mecin dan kerusakan otak) tidak ada kaitan," ujar Hardinsyah.

2. Mecin memicu asma?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Web MD menyebut, bahwa asma bronkial merupakan penyakit inflamasi (radang) kronik saluran napas yang menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan napas terhadap berbagai rangsangan, yang paling sering disebabkan karena alergi dan beberapa faktor risiko.

MSG pertama kali dilaporkan sebagai alergen oleh Allen dan Baker yang tercatat dalam jurnal The New England Of Medicine. Laporan ini berawal dari hasil pemeriksaan dua orang pasien yang mengeluhkan serangan asma setelah 12 jam mengonsumsi makanan di rumah makan Cina. Kemudian dilakukan uji pada pasien dengan memberikan kapsul yang berisi 2,5 gram MSG. Hasilnya, pasien mengalami serangan asma bahkan salah seorang pasien mengalami serangan asma berat. Oleh  karena itu peneliti menyimpulkan bahwa MSG mampu memicu bronkospasme, CRS dan asma.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut