Indonesia Waspada Ancaman Bioterorisme
Kamis, 20 Agustus 2015 - 00:49 WIB
Sumber :
- REUTERS/Tyrone Siu
Bisa dimengerti, kalau begitu maksudnya. Tak perlu menakut-nakuti orang dengan frasa bioterorisme yang terdengar menyeramkan itu wabah apa pun memang dapat menular. Tak perlu ada MEA pun, ratusan ribu warga Indonesia ke luar negeri, paling kurang ke Arab Saudi, tiap tahun pula, yaitu orang Islam yang pergi haji.
Pemerintah, terutama Kementerian Kesehatan, tak kurang-kurang memperingatkan kepada jemaah calon haji, agar mewaspadai macam-macam wabah penyakit di Arab. Misalnya, wabah MERS-CoV, yang memang telah membunuh lebih 38 warga Saudi. Tiap-tiap jemaah asal Indonesia pun sebelum berangkat wajib disuntik vaksin agar imun.
Pemberitahuan lain yang disampaikan Kohar ialah, unsur terkait yang wajib mewaspadai ancaman bioterorisme. Dia mengatakan bahwa selain rumah sakit, Dinas Kesehatan, lembaga karantina, maupun badan intelijen, serta masyarakat juga harus diberikan informasi yang lengkap dan memadai.
"Semua wajib terlibat mencegah dan tidak terjangkit virus menular. Masyarakat yang berpergian ke luar negeri, harus memahami informasi kesehatan di negara itu agar tidak terjangkit," tuturnya.
Dia menyebut, peran badan intelijen meski tak spesifik yang dimaksud adalah Badan Intelijen Negara, atau dinas rahasia serupa yang dimiliki militer, atau polisi. Tetapi, apa urusan dengan intelijen?
Kohar mengaku bukan ahli tentang virus, atau mikroorganisme. Namun, dia memperingatkan bahwa memang ada virus jenis tertentu yang telah dimodifikasi, atau direkayasa, alias bukan virus yang berkembang alamiah. "Secara ilmiah, memang ada peluang virus-virus itu bisa dimodifikasi,” katanya.
Dia tak menjelaskan, alasan dan motif memodifikasi virus itu, kalau memang benar ada yang begitu. Tak diungkap juga, siapa yang kira-kira punya pekerjaan usil memodifikasi virus.
Sudah terjadi di Indonesia
Ihwal ancaman bioterorisme itu pernah juga diperingatkan seorang Guru Besar pada Universitas Airlangga Surabaya, Prof Dr. Chairul Anwar Nidom. Dia, bahkan mengaku menenggarai bioterorisme sudah terjadi di Indonesia. Namun, faktor, motif, dan dampaknya masih perlu diteliti.
Profesor Nidom adalah peneliti virus flu burung, MERS, ebola, dan vaksin. Dia juga Guru Besar bidang ilmu biokimia dan biomolekuler pada Universitas Airlangga.
Halaman Selanjutnya