Indonesia Waspada Ancaman Bioterorisme
Kamis, 20 Agustus 2015 - 00:49 WIB
Sumber :
- REUTERS/Tyrone Siu
Bioterorisme di era yang lebih modern adalah dalam Perang Dunia II. Awalnya, Uni Soviet (Rusia sekarang) menggunakan kuman yang mengakibatkan penyakit tularemia pada tentara Jerman pada pertempuran Stalingrad tahun 1942. Kuman itu dapat menyebabkan sakit kepala, mual, dan demam tinggi, hingga kematian.
Banyak tentara Jerman tewas, karena penyakit itu dan Nazi menderita banyak kerugian karenanya. Namun, penyakit ini juga menular kepada penduduk sipil dan tentara Soviet.
Jerman juga mengembangkan senjata biologis. Namun, fungsinya terbatas untuk sabotase ekonomi dan pertanian. Jerman tidak pernah serius mengembangkan patogen yang menyerang manusia, namun mengembangkan patogen untuk menghancurkan pertanian dan peternakan musuh-musuhnya.
Pemimpin Nazi, Adolf Hitler, menolak setiap usulan para perwiranya, agar mereka mengembangkan senjata biologis secara serius dan terencana. Hitler malah mengarahkan riset Jerman pada usaha defensif untuk menangkal serangan senjata biologis dari pihak Sekutu.
Namun, dalam skala yang terbatas, Nazi melakukan percobaan senjata biologis pada tahanan di kamp konsentrasi mereka di Aushwich, Polandia. Tahanan dipaparkan kuman Rickettsia prowazekii, Rickettsia mooseri, virus hepatitis A, dan Plasmodia spp.
Amerika Serikat juga tidak luput dari serangan bioterorisme. Pada 1984, Kota Oregon diserang kelompok radikal dengan zat racun makanan salmonella untuk mencemari bar-bar salada. Serangan itu untuk memengaruhi pemilihan umum setempat.
Kelompok teroris itu memilih zat untuk melumpuhkan, bukan untuk mematikan. Serangan mereka berhasil membuat sakit sebanyak 751 orang, tetapi tidak ada yang mati.
Dugaan, atau sangkaan paling serius —meski dalam skala terbatas— tentang serangan bioterorisme di Indonesia terjadi bersamaan kasus merebaknya wabah flu burung pada 2012, sebagaimana sempat dicurigai juga Profesor Nidom.
Teori konspirasi yang paling mendekati pada kecurigaan bioterorisme karena virus H5N1 (nama virus untuk flu burung) yang menyerang itik berbeda dengan H5N1 yang menyerang ayam.
Virus yang menyerang itik adalah H5N1 clade 2.3.2, sedangkan virus yang menyerang ayam adalah H5N1 clade 2.1. H5N1 clade 2.3.2 tak pernah ditemukan di Indonesia, melainkan di Tiongkok. Fakta tersebut, segera dikaitkan dengan impor ilegal itik dari Tiongkok kala itu. (asp)
Gelar Operasi Antiteror, Polisi Kanada Lumpuhkan Tersangka
Tersangka bernama Aaron Driver dan ia bertindak tunggal.
VIVA.co.id
11 Agustus 2016