Indonesia Waspada Ancaman Bioterorisme

Lebih dari 20.000 ayam dimusnahkan di Hong Kong
Sumber :
  • REUTERS/Tyrone Siu

img_title Gelar Operasi Antiteror, Polisi Kanada Lumpuhkan Tersangka
"Sebagai peneliti, kalau memperhatikan struktur kuman penyakit hewan di Indonesia, ada sejumlah fakta yang aneh meski motif dan dampaknya belum jelas," katanya pada Sabtu lalu, 15 Januari 2015. Kala itu, sedang ramai kasus wabah ebola di sejumlah negara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


img_title Bertemu Menteri Australia, Yasonna Bahas Soal Terorisme
Dia juga menyatakan serupa peringatan Wakil Direktur RSUD Dr. Soetomo bahwa ancaman terorisme menjadi lebih terbuka dalam MEA. atau pasar tunggal negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

img_title UEA: Teroris Sebarkan Radikalisme Lewat Video Game
MEA sejatinya hasil kesepakatan para pemimpin negara-negara Asia Tenggara pada satu dekade lalu. MEA dibuat, agar daya saing ASEAN meningkat, serta bisa menyaingi Tiongkok dan India untuk menarik investasi asing. Penanaman modal asing di kawasan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan.

Pembentukan pasar tunggal memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara, sehingga kompetisi akan semakin ketat. Artinya, perpindahan atau pergerakan orang antarnegera Asia Tenggara bakal lebih tinggi.

Itulah yang dicemaskan Profesor Nidom sebagai potensi bioterorisme. Bioterorisme memang berbeda dengan terorisme dalam bentuk bom. Teror bom sangat jelas dampaknya berupa ledakan dan korban.

“Sedangkan bioterorisme itu menggunakan bakteri, virus, dan kuman penyakit lain, yang dampaknya tidak langsung, tetapi bisa berlangsung lama, yakni perekonomian jatuh," katanya.

Profesor Nidom mengaku menemukan sejumlah fakta nonalami yang memperkuat dugaan terjadi bioterorisme di Indonesia, antara lain, kasus flu burung yang terjadi sejak 2003. Tapi hingga 2015, atau 12 tahun kemudian, tidak terselesaikan juga. Sama dengan kasus flu babi pada 2009, yang struktur virusnya tidak alami juga.

"Bahkan, virus flu burung yang menyerang bebek pada tahun 2012, ternyata tidak sama dengan virus flu burung sebelumnya, dan justru ada kemiripan dengan virus serupa di China. Itu aneh, kecuali ada impor bebek dari sana," katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Dia juga mendeteksi jejak virus ebola pada hewan sejak 2012, yang ditemukan secara tidak sengaja, saat meneliti virus itu pada orangutan. "Anehnya, virus ebola itu ada kemiripan dengan yang terjadi Afrika, bukan Filipina. Itu aneh," ujarnya.
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut