Dunia Harus Siap Hadapi Tahun Terpanas
- REUTERS/David Gray
Selain faktor alam, biang lainnya yang patut menjadi perhatian yaitu faktor aktivitas manusia.
Data peneliti menunjukkan, penyebab tahun terpanas pada periode lima tahun ke belakang adalah luncuran gas rumah kaca ke atmosfer akibat aktivitas manusia. Peneliti WMO bahkan menyebut itu sebagai faktor dominan tren panjang cuaca panas di bumi.
Data itu sesuai dengan studi pada awal tahun ini yang dilakukan oleh Climate Central. Studi itu menunjukkan, rekor panas 2015 didorong oleh emisi gas rumah kaca. Belum lagi polusi dari kendaraan dan pabrik serta pembakaran hutan yang kini melanda banyak negara turut menyumbang besar untuk pemanasan global.
Jejak emisi gas rumah kaca sudah dimulai sejak Revolusi Industri pada abad ke-18. Dua abad lalu itu, aktivitas industri mulai mencemari iklim global. Efek gas rumah kaca itu awalnya meningkatkan bencana alam dan iklim yang tak stabil. Akibatnya kekeringan panjang, meningkatnya curah hujan hingga menyebabkan banjir besar sudah meraata terjadi di seluruh dunia. Termasuk Indonesia sudah merasakan dampaknya.
Dunia melawan panas
Negara dunia bukan tanpa upaya untuk melambatkan bumi yang kian panas tersebut. Penghujung 2015, 147 pemimpin negara dunia berkumpul di Paris, Prancis menghadiri Konferensi Perubahan Iklim 2015 atau disebut juga Conferences of Parties (COP) ke-21. Forum ini untuk menegaskan upaya negara dunia mengatasi perubahan iklim global termasuk mencegah bumi yang kian panas.
Dimulai dari gagalnya Protokol Kyoto yang berakhir tahun 2012, COP-21 ini akan menjadi titik kesepakatan baru bagi negara-negara di seluruh dunia untuk memenuhi komitmennya menurunkan emisi gas rumah kaca. Pembahasan ini sudah dimulai sejak terbentuknya tim Ad Hoc Working Group on Durban Platform for Enhanced Action (ADP) tahun 2011 di Durban, Afrika Selatan.
Konferensi itu menghasilkan Kesepakatan Paris, yang menegaskan komitmen negara dunia menjaga ambang batas kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat celcius dan berupaya menekan hingga 1,5 derajat celcius.
Selanjutnya yaitu dicapainya kesekapakatan sistem perhitungan karbon dan pengurangan emisi secara transparan, upaya memperkuat kemampuan negara unttuk mengatasi dampak perubahan iklim.