Tugas Belum Selesai, Bebaskan 4 WNI Lainnya
- VIVA.co.id/Inquirer.net
Apalagi, memang dikenal tak pernah kompromi dengan alasan apa pun untuk sandera mereka. Sandera John Ridsel, asal Kanada sudah menjadi bukti.
Lantaran tebusan tak dibayarkan, kepala Ridsel akhirnya ditemukan dalam sebuah kantong plastik penuh darah di sebuah jalan pinggiran Kota Sulu Filipina.
Militer Filipina mengakui belum bisa memastikan apakah 10 sandera WNI ini murni dibebaskan atau ada proses pembayaran tebusan.
Hanya saja memang ada rumor beredar bahwa pada 29 April 2016, memang telah terjadi proses pembayaran tebusan senilai US$1 juta atau setara Rp13,1 miliar kepada kelompok
"Diyakini tidak ada tawanan yang bisa dilepaskan tanpa tebusan," kata pejabat kepolisian Filipina Inspektur Polisi Junpikar Sitin.
![]()
Sepuluh WNI yang sudah dibebaskan kelompok Abu Sayyaf saat di kediaman Gubernur Sulu, Minggu (1/5/2016)
Â
Lalu, bagaimana dengan sikap pemerintah Indonesia soal ini? Dalam pernyataan pers yang digelar di Istana Bogor, Minggu petang, 1 Mei 2016. Presiden Joko Widodo didampingi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, menyiratkan sebuah kerahasiaan proses pembebasan 10 sandera tersebut.
"Banyak sekali yang bekerja sama dalam pembebasan ini. Karena itu saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak yang membantu proses pembebasan ini," kata Jokowi.
Menurut Jokowi, pembebasan sandera kelompok dilakukan secara formal dan informal. Tak dirinci bagaimana teknis pembebasan ini. Apakah ini melalui proses negosiasi dengan pihak lain sebagai perantara atau pun memang dengan pembayaran tebusan sesuai ancaman .
"Semua komunikasi dan jaringan kita buka. Semua opsi kita buka dengan tujuan mengupayakan keselamatan WNI," kata Retno.
Nasib Empat WNI Lagi?
Lalu, apakah keberhasilan pembebasan 10 sandera ini akan bernasib sama dengan empat WNI lain yang juga ikut disandera setelah pembajakan kapal Brahma 12?
Masalah ini kini menjadi prioritas pemerintah dan tentunya tak luput dari komitmen perusahaan. Sebab, tak lama setelah Brahma 12 dibajak, kapal tunda pengangkut batu bara bernama TB Hendry dan Barge Christy juga ikut dibajak.
Kapal milik PT Global Trans Energy Internasional itu harus kehilangan empat dari 10 awak kapal mereka. Yakni Moch Ariyanto Misnan (nakhoda), Lorens MPS, Dede Irfan Hilmi, dan Samsir.