Selamat Datang Donald Trump, Era Baru Amerika
- REUTERS/Brendan McDermid
Namun Trump memuji Rusia. Sejak masa kampanye hingga terpilih, ia konsisten memuji Rusia. Trump mengaku memiliki tujuan, agar Rusia bersedia mengurangi penggunaan senjata nuklir. Meski diberitakan melakukan kerja sama dengan Rusia, agar memenangkan pilpres AS, namun Trump bergeming.Â
Ia acuhkan laporan intelijen setebal 35 halaman yang menuduhnya ada main dengan Rusia, dan balik menuduh, media yang memberitakan kabar tersebut sebagai penyebar berita palsu.
Selanjutnya, pandangan pengamat>>>
Pengamat internasional dari Universitas Indonesia Suzie Sudarman mengatakan Trump adalah ekstraordinari presiden. Ia adalah seorang presiden yang tak bisa diperintah, atau diberi nasihat.
"Trump itu seperti pemain sulap -  bermain di tataran publiknya yang rasis istimewa pada saat defisit. Lalu, bermimpi tentang  nuklir, karena perang konvensional tidak efektif. Namun, dia tidak ingat teknologi nuklir kalau jatuh ke tangan musuh konvensional sangat berbahaya," ujar Suzi kepada VIVA.co.id yang menghubunginya melalui pesan singkat.
Meski Trump terus mengomentari dan melakukan manuver yang seolah menyerang negara lain, Suzi menilai, justru saat mengendalikan AS nanti Trump akan lebih banyak fokus ke dalam negeri. "Dia akan membuat jalannya sendiri, karena ia extraordinary president. AS telah lama kaya dan terbuai dengan cara liberal yang santun, tetapi intervensionist. Dia mau memperkuat AS, dengan jalan memperkaya negeri. Padahal, masalah AS adalah struktural.  Bagaimana menyusun kembali sumber-sumber employment, setelah 50 ribu pabrik AS tutup sejak 1993," ujar Suzi.
Menurutnya, Trump cenderung berilusi. Dan, sebagian masyarakat AS mempercayai ilusi Trump.
Kecurigaan bahwa Trump juga akan lebih fokus pada problem dalam negeri juga disampaikan oleh Zhang Baohui, seorang pakar masalah keamanan dari Universitas Lingnan di Hong Kong. Zhang, menganalisa kontak Trump dengan Presiden Taiwan.
Ia mengatakan, Trump tak sungguh-sungguh ingin meningkatkan konflik dengan Beijing, namun China tak memberikan banyak pengaruh pada Presiden AS mendatang tersebut.
"Trump sangat cerdas. Ia menggunakan isu Taiwan sebagai kunci untuk tawar menawar dengan China. Agenda Trump sangat sederhana. Ia hanya peduli pada ekonomi domestik. Isunya adalah menciptakan pekerjaan. Ia yakin, memilah isu perdagangan dengan China, akan membantunya menciptakan pekerjaan di dalam negerinya," ujar Zhang seperti dikutip dari Independent, Kamis 19 Januari 2017.