I'm Not Gay

Ilustrasi kelompok LGBT.
Sumber :
  • REUTERS/Cathal McNaughton

Jelas aku kaget. Perusahaan macam apa ini. Ia tidak meminta proposalku. Apa itu karena tulisan di proposalku kurang sopan? Atau kurang menarik? Tapi, dia sendiri pun belum sempat membacanya, bagaimana ia bisa menyangka proposalku kurang menarik. “Kok enggak usah? Coba dibaca dulu deh, saya mohon,” pintaku. Si om tertawa, “Tidak usah. Kamu tinggal sebut, lalu saya beri sekarang.”

img_title Desa Bukan Hanya Sekadar Desa

Si om membuatku tambah kaget lagi. Aku menoleh pada Max dan ia hanya tersenyum. Kenapa semudah ini? Aku pikir aku akan disuruh mempresentasikan proposalku. Tapi ini tidak, ini berbeda. “Serius?” tanyaku dengan sangat tidak percaya. Ia hanya mengangguk sembari tersenyum. “Saya butuh 150 juta, Om,” ucapku polos. Ia pun mengeluarkan uang dari saku jas dan meletakkannya di atas meja, “Ini pas 150 juta.” Saya pun langsung mengucapkan terima kasih kepadanya. “Hanya saja, saya minta kamu untuk temani saya malam ini,” ucapnya dengan wajah menjijikan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Aku kaget. Mata ini melotot. Aku tidak bisa berkata apapun. Aku tidak mengerti maksud perkataannya. Tapi perkataan tadi benar-benar membuatku geli. “Maksudnya Om? Saya enggak ngerti.” ucapku dengan polos. “Temani saya tidur malam ini. Di hotel pribadi saya.” Aku kaget dan membentak si pemilik perusahaan, “Apa-apaan ini? Saya masih normal, Om! Saya bukan gay! Menjijikan!” ucapku geram. “Ya sudah.” ujarnya tenang sambil mengambil kembali uang 150 juta yang ada di atas meja itu.

img_title Aku Akan Tampar Mereka dengan Kesuksesanku

Aku segera keluar dari perusahaan itu dan kembali ke kampus dengan perasaan geli dan marah. Aku tidak percaya ternyata Max mendapatkan dana dengan cara seperti ini. Sesampainya di kampus, aku segera duduk di kelas. Perasaanku kacau. Aku terus mengacak-acak rambutku. Aku merasa sedikit frustasi, dan akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah.

Hari-hari berlalu. Aku masuk ke kampus tetapi tidak pergi ke kelas. Aku duduk di smoking area atau biasa disebut dengan smokar. Aku sendirian dan tidak ingin diganggu. Tapi tiba tiba saja Max menghampiriku. Ia membentakku. “Dasar loe ya! Gak tahu diri! Udah bagus gue mau bantuin loe buat dapetin dana, eh loe malah ngebentak si Om! Gak lagi-lagi deh gue bantuin loe!”

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Buka Bersama Eratkan Silaturahmi Anggota DN Malut Makassar
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut