Selamat Jalan Sahabatku Deniro Sutra S. Simanjuntak

Ilustrasi
Sumber :
  • U-Report

Pagi ini aku datang pagi sekali. Karena tidak ada yang kukerjakan di kelas, maka aku duduk-duduk di depan kelas sambil menunggu temanku yang satu itu datang. Tak lama aku menunggunya, akhirnya dia pun datang dengan senyum yang dia lemparkan kepadaku. Semua masih terasa sama seperti hari-hari biasanya. Hari ini adalah hari yang kami tunggu-tunggu karena acara perpisahan yang telah direncanakan dan dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Acara ini sukses membuat kami tidak dapat melupakannya. Dan tidak terasa jika tahun depan justru kami yang akan mengadakan acara perpisahan ini.

img_title Coastal Beach Clean Up di Hari Peduli Sampah Nasional

Di saat acara istirahat, kami pun makan-makan bersama. Ketika aku berpapasan dengan Sutra, aku mulai mengejeknya seperti biasa. Namun, aku merasa ada yang aneh ketika aku melihat responnya yang tidak biasa terhadapku. Dia hanya tersenyum tanpa membalas sepatah katapun terhadapku. Tapi, aku hanya megacuhkan itu walaupun sebenarnya saat itu perasaanku menjadi janggal karenanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Malamnya, tepat pukul 19.15 WIB aku dikagetkan dengan telepon seorang guruku yang memang akrab dengan Ayahku. Guruku memberikan kabar duka atas perginya seorang siswa dari SMA-ku yang ternyata juga anak kelas XI. Lalu ayahku memberitahukan itu kepadaku. Namun, aku tak terlalu serius menanggapinya karena aku juga tak tahu persis siapa itu.

img_title Driver Ojek Online Sedekah Jasa Antar Anak Yatim ke Sekolah

Keesokkan harinya, ketika aku sampai di gerbang sekolah, entah atas dasar apa perasaan yang tak mengenakan itu datang lagi di dalam diriku. Namun, tetap kulanjutkan langkahku menuju kelasku yang berada di seberang lapangan basket. Terlihat di dalam kelas, temanku yang bernama Ulul sedang menghabisi sarapannya. Aku melangkah masuk dengan perasaan yang aneh untuk hari ini. “Sepinya sekolah ini, kaya kuburan,” ucapku. “Kamu tidak tahu ya? ujar Ulul sambil melihatku dengan menggigit tulang ayam yang dia pegang. “Apa?” jawabku dengan wajah yang begitu penasaran. “Sutra sudah meninggal,” Sontak aku pun kaget dan aku terduduk diam di dekatnya yang sedang menghabiskan makanannya pagi itu.

Sungguh aku tak percaya, semua terasa tak nyata. “Serius kamu, Lul? Kamu gak bohong?” tanyaku yang kuperjelas kepada Ulul. “Iya, kami saja tadi malam ke rumah sakit,” Ulul pun pergi meninggalkan aku dengan segudang rasa yang tak karuan, termasuk rasa tak percaya. Aku tetap tak percaya kepada Ulul. Aku masih tetap bersikukuh dengan hatiku bahwa Sutra masih hidup. Hingga saat teman-temanku datang memasuki ruangan kelas, mereka semua membicarakan hal yang dibicarakan Ulul tadi pagi kepadaku. Aku tetap tak percaya, meski dalam hatiku mulai lirih-lirih rasanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Avi Choir Avicenna, Paduan Suara Cilik yang Penuh Prestasi
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut